
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Jumat (23/10) setelah serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. UKOIL berada di US$113,97 per barel, sementara WTI mencapai US$102,01 per barel. Brent juga berada di jalur penguatan untuk pekan ketiga berturut-turut, sementara pergerakan WTI masih lebih terbatas.
Ketegangan meningkat setelah Saudi Aramco dilaporkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, dekat Bahrain. Eskalasi antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya.
Analis ING menilai pasar semakin mengkhawatirkan kemungkinan eskalasi kembali di kawasan Teluk Persia. Meski arus minyak sejauh ini masih relatif bertahan, potensi gangguan membuat premi risiko geopolitik tetap tertanam dalam harga minyak. Jika ketegangan kembali meningkat, tekanan terhadap harga berpotensi semakin besar.
Konflik juga berkaitan dengan kawasan Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran penting di mulut Laut Merah. Pasar kini memantau seberapa besar gangguan aktual terhadap pengiriman energi dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan operasi. Semakin lama serangan berlangsung dan pengiriman tertunda, semakin kuat alasan bagi harga minyak untuk bertahan di level tinggi.
Tekanan pasokan juga datang dari Libya setelah katup pipa minyak yang menghubungkan ladang Hamada dan Tahara menuju pelabuhan Zawiya ditutup. Penutupan tersebut menyebabkan produksi di kedua ladang mengalami penurunan dan menambah perhatian pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari sejumlah wilayah produsen minyak.
Analisis Newsmaker: Fundamental minyak masih cenderung bullish karena premi risiko geopolitik kembali meningkat. Fokus pasar kini bukan hanya pada harga minyak, tetapi juga apakah serangan di Timur Tengah mulai mengganggu arus ekspor secara nyata. Jika gangguan pasokan meluas, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi, sementara meredanya konflik dapat mengurangi premi risiko dan membuka ruang koreksi. (srh)
Sumber: Newsmaker.id