
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melanjutkan pelemahan pada perdagangan Senin (31/8) setelah sebelumnya anjlok lebih dari 3% pada Jumat. Tekanan muncul setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa inflasi menuju target 2%, sehingga memperbesar ekspektasi bahwa The Fed masih dapat menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Spot emas sempat turun hingga 1,3% ke bawah US$4.400 per troy ounce sebelum memangkas sebagian kerugiannya. Reuters mencatat emas berada sekitar US$4.436 per ounce pada perdagangan Senin.
Pernyataan Warsh dalam simposium Jackson Hole membuat pasar semakin agresif memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September. Probabilitas kenaikan suku bunga September melonjak menjadi sekitar 60%, setelah sebelumnya berada di kisaran pertengahan 30%. Warsh menilai inflasi masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan pergerakan yang cukup meyakinkan menuju target bank sentral.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi menjadi tekanan utama bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Ketika yield Treasury dan ekspektasi suku bunga meningkat, investor memiliki insentif lebih besar untuk berpindah ke aset berbunga. Barclays bahkan mengubah proyeksinya setelah pidato Warsh dan kini memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga dua kali lagi sebesar masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak akibat kembali memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran menciptakan situasi yang lebih kompleks bagi emas. Harga minyak yang tinggi dapat memperbesar risiko inflasi dan memperkuat alasan The Fed mempertahankan sikap hawkish. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik juga berpotensi mempertahankan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Brent kembali bergerak di atas US$90 per barel setelah eskalasi militer terbaru meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Meski terkoreksi tajam dalam beberapa sesi terakhir, emas masih mencatat kenaikan lebih dari 10% sepanjang Agustus dan berada di jalur kenaikan bulanan terbesar sejak Januari. Salah satu faktor pendukungnya adalah kebijakan Treasury AS untuk meningkatkan operasi buyback obligasi jangka panjang. Treasury berencana menggandakan pembelian kembali menjadi sekitar US$4 miliar per operasi, dengan pelaksanaan berikutnya dijadwalkan mulai 10 September. Kebijakan tersebut sebelumnya meningkatkan kekhawatiran mengenai utang pemerintah dan pelemahan nilai mata uang, sehingga kembali menghidupkan permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai.
Analisa Newsmaker: Emas saat ini berada dalam tarik-menarik antara The Fed yang hawkish dan Treasury AS yang lebih suportif terhadap pasar obligasi. Dalam jangka pendek, perubahan ekspektasi suku bunga September menjadi faktor yang lebih dominan sehingga tekanan terhadap emas masih dapat berlanjut. Area US$4.200–US$4.300 berpotensi menjadi zona yang mulai diperhatikan pasar apabila koreksi berlanjut. Namun, tren bullish yang lebih besar belum otomatis berakhir karena isu utang AS, program buyback Treasury, ketegangan AS-Iran, dan risiko inflasi masih dapat mempertahankan permintaan terhadap emas.
Fokus berikutnya adalah data tenaga kerja AS pekan ini. Jika NFP dan indikator ketenagakerjaan tetap kuat, peluang kenaikan suku bunga September dapat semakin besar dan berpotensi kembali menekan emas. Sebaliknya, pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja bisa mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga dan membuka peluang rebound emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id