Inflasi Naik, Bursa Eropa Kehilangan Arah
Bursa saham Eropa ditutup bervariasi pada perdagangan Jumat (31/7) karena investor mencermati kenaikan inflasi kawasan Euro serta sejumlah laporan perusahaan. Indeks Stoxx 600 turun tipis 0,1%, DAX Jerman naik 0,1%, FTSE 100 Inggris melemah 0,3%, CAC 40 Prancis menguat 0,3%, sedangkan Swiss Market Index turun 0,3%.
Tekanan pasar bertambah setelah inflasi konsumen Zona Euro meningkat menjadi 2,9% secara tahunan pada Juli, dari 2,8% pada Juni. Kenaikan tersebut dapat membuat Bank Sentral Eropa tetap berhati-hati dalam menentukan arah suku bunga karena tekanan harga masih berada di atas target.
Dari sisi regulasi, induk perusahaan Temu, PDD, dan anak usahanya WhaleCo Technology menghadapi tuduhan awal dari Komisi Eropa terkait dugaan menghalangi proses pemeriksaan. Otoritas menilai perusahaan tidak memberikan informasi dan dokumen yang diminta dalam penyelidikan mengenai kemungkinan subsidi asing yang dapat mengganggu persaingan di Uni Eropa.
Ketegangan juga muncul di dunia sepak bola setelah UEFA dikabarkan menyetujui kemungkinan boikot terhadap turnamen FIFA. Langkah tersebut dapat dilakukan jika Presiden FIFA Gianni Infantino melanjutkan rencana menjual kepemilikan dalam entitas komersial baru kepada investor. UEFA menilai Piala Dunia tidak seharusnya diperlakukan sebagai produk investasi.
Dari sektor korporasi, saham Novo Nordisk anjlok lebih dari 7% setelah obat ziltivekimab gagal mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung, serangan jantung, atau stroke dalam uji klinis tahap akhir. Sebaliknya, saham Shell naik 1,9% setelah menjual bisnisnya di Siprus kepada MOL Group, sementara BP menguat 1,8% setelah memulai proses penjualan bisnis minyak dan gasnya di Laut Utara.
Saham NatWest melonjak 3,2% setelah laba dan pendapatannya melampaui perkiraan pasar. HSBC turun 0,7% setelah memperkirakan biaya restrukturisasi sebesar US$300 juta terkait penghentian bisnis perbankan ritelnya di Australia.
Analisis Newsmaker: Kenaikan inflasi dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Eropa, sementara pergerakan bursa dalam waktu dekat berpotensi lebih banyak dipengaruhi oleh laporan kinerja perusahaan dan aksi korporasi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id