Dolar Anjlok, Yen Melonjak Tajam
Dolar AS melemah tajam pada perdagangan Kamis (30/7) setelah pertumbuhan ekonomi AS lebih rendah dari perkiraan dan inflasi inti bulanan mulai melandai. Indeks Dolar AS turun sekitar 0,8% ke area 100,00 dan sempat menembus level psikologis tersebut.
Ekonomi AS hanya tumbuh 1,5% pada kuartal kedua, lebih rendah dari perkiraan 2,1%. Core PCE juga naik 0,1% secara bulanan, di bawah perkiraan 0,2%, sementara inflasi inti tahunan melandai menjadi 3,3% dari 3,4%.
Namun, tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang. Klaim pengangguran tercatat 197 ribu, lebih rendah dari perkiraan, sedangkan GDP Price Index melonjak 6,3%, jauh di atas perkiraan 3,6%. Kondisi ini menunjukkan ekonomi melambat, tetapi tekanan harga masih tinggi.
EUR/USD menguat sekitar 0,5% ke 1,1530 setelah ekonomi Zona Euro tumbuh lebih baik dari perkiraan. GBP/USD turut naik sekitar 0,8% ke 1,3470 setelah Bank of England mempertahankan suku bunga dengan tiga pejabat mendukung kenaikan.
USD/JPY anjlok sekitar 2,4% ke 159,50 setelah yen menguat secara tiba-tiba. Besarnya pergerakan memicu dugaan intervensi otoritas Jepang, meskipun belum ada konfirmasi resmi menjelang keputusan Bank of Japan. AUD/USD melonjak sekitar 1,1% dan diperdagangkan di dekat level 0,7030, bergerak melampaui level psikologis 0,7000. Dolar Australia mendapat keuntungan dari pelemahan Greenback secara luas serta meningkatnya permintaan terhadap mata uang yang sensitif terhadap risiko, menyusul data pertumbuhan ekonomi dan inflasi bulanan AS yang lebih rendah dari perkiraan.
Dampaknya, dolar masih berpotensi tertekan apabila data AS terus melemah dan dugaan intervensi yen berlanjut. Namun, inflasi harga GDP yang tinggi serta pasar tenaga kerja yang masih solid dapat membatasi pelemahan dan menjaga peluang kebijakan The Fed tetap ketat. (arl)
Sumber: Newsmaker.id