Saham AS Lanjut Terkoreksi, Risiko Inflasi Kembali Membayangi
Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Rabu (8/7), seiring kenaikan harga energi yang membuat kondisi makroekonomi menjadi kurang mendukung bagi pasar. Indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 turun sekitar 0,5%, sementara Dow Jones melemah 1%.
Tekanan pasar meningkat setelah imbal hasil Treasury naik menyusul keputusan Presiden Donald Trump yang menyatakan gencatan senjata dengan Iran tidak lagi berlaku. Ketegangan baru antara kedua negara mendorong harga minyak melonjak dan membuat investor kembali mempertimbangkan risiko inflasi.
Pelaku pasar kini menanti risalah rapat FOMC bulan Juni untuk mencari petunjuk mengenai seberapa besar kesiapan Federal Reserve dalam menaikkan suku bunga. Jika inflasi kembali mendapat tekanan dari harga energi, ekspektasi kebijakan moneter ketat berpotensi kembali menguat.
Sektor yang sensitif terhadap kredit ikut tertekan, dengan saham JPMorgan dan Visa masing-masing turun sekitar 2%. Kenaikan yield membuat saham-saham yang bergantung pada biaya pembiayaan lebih rendah menjadi kurang menarik bagi investor.
Tekanan juga berlanjut pada saham produsen chip. Investor khawatir perusahaan hyperscaler dapat memperlambat belanja infrastruktur AI, sementara laporan bahwa sejumlah perusahaan besar China mulai mengembangkan proyek chip menambah kekhawatiran terhadap prospek pangsa pasar produsen chip global.
Saham Micron, Sandisk, dan Intel masing-masing turun sekitar 1%. Di sisi lain, saham teknologi besar seperti Meta, Amazon, dan Microsoft melemah hingga 2%, menunjukkan bahwa tekanan pada sektor AI dan teknologi masih menjadi salah satu beban utama Wall Street.(yds)
Sumber: Newsmaker.id