Dow Cetak Rekor, Nasdaq Tertekan Aksi Jual Chip
Bursa saham AS bergerak beragam pada perdagangan Kamis (2/7) setelah perlambatan tajam di pasar tenaga kerja AS memicu spekulasi bahwa Federal Reserve tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Dow Jones Industrial Average naik 1,1% dan menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Namun, S&P 500 ditutup nyaris tidak berubah, sementara Nasdaq 100 melemah 1,6% akibat tekanan besar pada saham-saham semikonduktor.
Data tenaga kerja menjadi katalis utama pasar. Nonfarm Payrolls AS hanya bertambah 57.000 pekerjaan pada Juni, jauh di bawah ekspektasi. Selain itu, revisi turun untuk dua bulan sebelumnya mengurangi optimisme terhadap momentum penciptaan kerja yang sempat terlihat kuat pada awal tahun.
Meski data payroll melemah, tingkat pengangguran justru turun ke 4,2%. Namun, pasar tetap melihat laporan tersebut sebagai sinyal bahwa tenaga kerja AS mulai kehilangan tenaga. Kondisi ini membuat investor memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.
Yield Treasury jangka pendek turun setelah data tersebut dirilis, sementara dolar AS melemah terhadap seluruh mata uang utama negara maju. Pelemahan dolar dan turunnya yield biasanya menjadi sentimen positif bagi aset berisiko, karena mengurangi tekanan dari biaya pendanaan yang tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya mengatakan risiko harga telah menurun, tetapi ia tetap menegaskan komitmen bank sentral untuk membawa inflasi kembali ke target 2%. Meski The Fed menahan suku bunga bulan lalu, sejumlah pejabat masih membuka peluang kenaikan tahun ini karena inflasi berjalan pada laju tercepat sejak 2023.
Namun, reli pasar tidak merata. Volatilitas saham teknologi kembali menjadi perhatian menjelang libur panjang Amerika Serikat. Indeks semikonduktor utama memperpanjang penurunan dua hari hingga sekitar 11%, karena investor semakin khawatir terhadap valuasi tinggi dan besarnya belanja infrastruktur artificial intelligence.
Aksi jual saham chip menekan Nasdaq, meskipun mayoritas saham di S&P 500 justru menguat. Hal ini menunjukkan bahwa rotasi sektor sedang terjadi, dengan investor mulai mencari peluang di luar saham-saham AI yang sebelumnya menjadi pemimpin reli pasar.
Secara keseluruhan, data tenaga kerja yang lemah membantu meredakan tekanan suku bunga dan mengangkat sebagian besar saham Wall Street. Namun, tekanan pada saham chip menunjukkan bahwa pasar mulai lebih selektif terhadap sektor teknologi setelah reli besar sepanjang semester pertama.
Ke depan, investor akan mencermati komentar lanjutan pejabat The Fed, data inflasi AS, dan perkembangan laba perusahaan. Jika data ekonomi terus melemah tanpa memicu kekhawatiran resesi, saham berpotensi mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga yang lebih rendah. Namun, jika aksi jual chip berlanjut, Nasdaq masih berisiko tertinggal dari Dow dan sektor lain.(arl)
Sumber: Newsmaker.id