Reli Saham Asia Berlanjut, Pasar Abaikan Risiko Geopolitik
Bursa saham Asia menguat pada Rabu (1 Juli) setelah mencatat kuartal terbaik dalam 17 tahun terakhir. Kenaikan ini didorong oleh reli saham produsen chip dan tanda-tanda ketahanan ekonomi Amerika Serikat yang memperkuat optimisme terhadap prospek laba perusahaan.
Sementara itu, saham di Jepang dan Korea Selatan bergerak naik, mendorong MSCI Asia Pacific Index menguat 0,3%. Penguatan ini mengikuti reli saham teknologi di Wall Street, setelah S&P 500 naik 0,8% dan Nasdaq 100 menguat 1,7%. Indeks saham semikonduktor juga melonjak hampir 4% dan mencatat kenaikan kuartalan tertinggi.
Hal ini membuat investor mulai mengabaikan sebagian ketegangan geopolitik yang masih membayangi pasar. Data terbaru Amerika Serikat menunjukkan ekonomi masih cukup kuat, dengan belanja konsumen yang stabil dan pasar tenaga kerja yang tetap solid. Kondisi ini meredakan kekhawatiran bahwa harga energi tinggi dan ketidakpastian perdagangan dapat menghambat pertumbuhan.
Di pasar komoditas, Brent naik 0,7% ke sekitar US$73,50 per barel pada awal perdagangan Asia, memulihkan sebagian pelemahan sebelumnya yang dipicu ekspektasi gencatan senjata AS-Iran akan bertahan. Sementara itu, emas stabil di sekitar US$4.010 per ons, sedangkan yen bergerak di kisaran 162,65 per dolar AS setelah sempat jatuh ke level terendah dalam 40 tahun.
Tekanan terhadap yen membuat pelaku pasar mencermati potensi ambang intervensi dari Kementerian Keuangan Jepang. Setelah yen menembus level 162 per dolar AS, sejumlah strategis mulai melihat area 163 dan lebih tinggi sebagai batas yang mungkin menjadi perhatian otoritas Jepang. Pasar menilai pemerintah Jepang kali ini mungkin lebih toleran terhadap pelemahan yen dibandingkan pada 2024.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga mencermati arah Federal Reserve setelah data tenaga kerja tetap stabil dan inflasi masih tinggi. Pejabat The Fed sebelumnya mempertahankan suku bunga tetap, tetapi peluang kenaikan suku bunga pada akhir tahun masih terbuka. Di sisi geopolitik, pembicaraan teknis AS-Iran disebut terus berjalan, meskipun gesekan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi risiko utama bagi pasar energi global. (asd)
Sumber: Newsmaker.id