Emas Jatuh Tajam, Apakah Tekanan Masih Terus Berlangsung?
Harga emas kembali merosot pada perdagangan Selasa (30/06) dan bergerak mendekati level terendah dalam delapan bulan. Tekanan penjualan semakin kuat karena pasar khawatir inflasi Amerika Serikat masih sulit turun dan dapat mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga lagi pada tahun ini.
Emas spot turun 1,3% ke level US$3.965,51 per troy ounce, sementara kontrak emas berjangka melemah 1,5% ke US$3.975,92 per troy ounce. Harga spot kini berada di posisi terlemah sejak awal November. Sepanjang Juni, emas sudah turun 12,8%, menjadi pelemahan bulanan terburuk sejak 2008.
Tekanan utama datang dari dolar AS yang menguat dan ekspektasi bahwa The Fed masih akan mengambil langkah hawkish. Dalam pertemuan Juni, sejumlah pejabat bank sentral AS memberi sinyal bahwa kenaikan suku bunga masih terbuka. Kondisi ini membuat emas semakin tertekan karena logam mulia tidak memberikan hasil yang tidak seimbang.
Inflasi kekhawatiran juga dipicu oleh harga energi dan kenaikan biaya teknologi. Meski harga energi sempat turun setelah kesepakatan damai AS-Iran, pasar masih mencemaskan risiko Timur Tengah setelah ketegangan militer kembali muncul pada akhir pekan. Di sisi lain, kenaikan harga perangkat Apple akibat mahalnya chip ikut memperkuat kekhawatiran inflasi berbasis AI, karena industri kecerdasan buatan menyerap pasokan chip global dalam jumlah besar.
Logam mulia lain juga ikut melemah tajam. Perak spot turun 2% menjadi US$57,10 per troy ounce dan sudah anjlok 24,2% sepanjang bulan ini. Platinum melemah 1,3% menjadi US$1.563,25 per troy ounce dan turun hampir 19% pada bulan Juni. Kondisi ini menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada emas, tetapi juga meluas ke pasar logam mulia secara keseluruhan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id