Emas Turun, Inflasi Kembali Membayangi
Harga emas melemah pada perdagangan Senin (29/6) karena ketegangan baru di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran inflasi. Kondisi ini membuat pasar memperkirakan suku bunga tinggi masih dapat bertahan lebih lama, sehingga menekan daya tarik emas.
Pada pukul 09.35 waktu New York atau 13.35 GMT, harga emas spot turun 1,1% ke level US$4.042,43 per troy ounce. Sementara itu, kontrak emas berjangka melemah 1,0% ke level US$4.054,40 per troy ounce.
Tekanan terhadap emas muncul setelah Amerika Serikat dan Iran dilaporkan sepakat menghentikan serangan balasan di Selat Hormuz. Kesepakatan ini diharapkan dapat membuat kapal kembali melintasi jalur penting tersebut dengan lebih bebas. Namun, laporan lain menyebut Iran belum mengonfirmasi secara resmi kesepakatan tersebut.
Pembicaraan antara Washington dan Teheran disebut masih akan berlanjut untuk membahas detail penerapan nota kesepahaman. Amerika Serikat juga dilaporkan menawarkan pertemuan dengan Iran di Doha, Qatar, meski rincian pertemuan belum sepenuhnya final. Pertemuan tersebut berpotensi digelar paling cepat pada Selasa.
Meski harga minyak mulai stabil di sekitar level sebelum perang, kenaikan yang terjadi setelah ketegangan terbaru tetap menjaga kekhawatiran inflasi energi. Jika tekanan harga energi kembali meningkat, bank sentral, termasuk Federal Reserve, berpotensi tetap mempertahankan sikap ketat atau bahkan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Bagi emas, kondisi suku bunga tinggi menjadi tekanan besar karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Karena itu, meski emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai saat inflasi naik, ekspektasi kenaikan suku bunga membuat investor lebih berhati-hati terhadap pergerakan emas.(yds)
Sumber: newsmaker.id