AS-Iran Menuju Doha, Market Tahan Napas!
Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menggelar pertemuan di Doha, Qatar, pada Selasa (30/06) untuk membahas ketegangan di sekitar Selat Hormuz. Pertemuan ini menjadi perhatian besar pasar global setelah kedua negara sepakat menghentikan serangan terbaru yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Selat Hormuz menjadi titik paling sensitif karena merupakan jalur penting bagi arus energi dunia.
Ketegangan kembali meningkat setelah serangan balasan antara AS dan Iran mengganggu aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Serangan terhadap kapal tanker yang terkait dengan Qatar ikut memperlambat arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pelaku pasar kembali mempertanyakan apakah kesepakatan damai sementara kedua negara benar-benar kuat atau justru hanya jeda singkat sebelum konflik kembali membesar.
Pertemuan Doha dinilai penting karena akan menentukan arah baru hubungan AS-Iran, terutama terkait keamanan jalur pelayaran di Hormuz. Jika pembicaraan berjalan positif, risiko gangguan pasokan energi bisa mereda dan kepercayaan pasar terhadap stabilitas kawasan dapat pulih. Namun, jika pertemuan gagal menghasilkan kesepakatan yang jelas, pasar berpotensi kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke harga minyak.
Selain isu Hormuz, pembicaraan ini juga dibayangi oleh konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Ketegangan antara Israel dan Hezbollah di Lebanon masih menjadi ganjalan besar dalam upaya meredakan situasi kawasan. Iran sebelumnya menilai bahwa stabilitas regional tidak bisa hanya dibahas dari sisi Hormuz, tetapi juga harus mencakup konflik yang melibatkan sekutu-sekutunya di kawasan.
Dampaknya ke market, hasil pertemuan Doha bisa menjadi penentu arah gold dan oil dalam beberapa hari ke depan. Jika AS dan Iran berhasil menurunkan tensi, oil berpotensi melemah karena risiko pasokan berkurang, sementara gold bisa ikut tertekan karena permintaan safe haven menurun. Sebaliknya, jika pembicaraan gagal atau muncul ancaman baru, oil berpeluang kembali naik akibat risiko gangguan Selat Hormuz, sedangkan gold bisa bergerak volatil karena tarik-menarik antara permintaan aset aman, kekhawatiran inflasi energi, dan ekspektasi suku bunga The Fed.(Asd)*
Sumber: Newmaker.id