Rebound Gold Belum Aman, Oil Masih Berat
Resume Pergerakan Emas dan Minyak Dunia
Harga spot emas bergerak volatil sepanjang pekan lalu. Pada awal perdagangan, emas sempat menguat karena optimisme pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menekan harga minyak, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran inflasi. Namun, penguatan emas terbatas karena pasar masih mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed.
Tekanan terhadap emas kemudian meningkat setelah dolar Amerika Serikat menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Kenaikan yield Treasury dan sinyal hawkish dari The Fed membuat emas kehilangan daya tarik, terutama karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Bahkan, harga emas sempat jatuh ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce.
Menjelang akhir pekan, emas mulai rebound setelah data inflasi PCE Amerika Serikat keluar sesuai ekspektasi. Pelemahan dolar AS dan turunnya yield Treasury membantu menopang harga emas. Meski begitu, secara mingguan emas masih mencatat pelemahan karena tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi masih cukup kuat.
Fokus pasar emas berikutnya akan tertuju pada data tenaga kerja Amerika Serikat, terutama Nonfarm Payrolls, tingkat pengangguran, dan pertumbuhan upah. Jika data ekonomi AS tetap kuat, peluang kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali membesar dan berisiko menekan emas ke area US$4.000 hingga US$3.900.
Sementara itu, harga minyak dunia cenderung melemah sepanjang pekan. Tekanan datang setelah pasar melihat adanya peluang pemulihan pasokan dari kawasan Timur Tengah, terutama setelah Amerika Serikat memberikan izin sementara untuk penjualan minyak mentah Iran. Sentimen ini meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global.
Harga minyak sempat stabil setelah penurunan tajam, tetapi kembali melemah seiring meningkatnya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Kondisi tersebut menunjukkan kepercayaan pasar mulai membaik terhadap jalur pasokan energi global. Brent bergerak turun ke kisaran US$72–US$73 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$69–US$70 per barel.
Secara keseluruhan, minyak berada dalam tekanan karena optimisme terhadap kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran lebih dominan dibandingkan kekhawatiran baru di kawasan Timur Tengah. Perbaikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga memperkuat pandangan bahwa risiko gangguan pasokan mulai mereda.
PREDIKSI
Skenario Gold Minggu Ini
Berdasarkan chart daily, gold pekan ini masih berada dalam fase rebound setelah sebelumnya tertekan cukup dalam. Close market pekan lalu di area 4.061 menjadi level penting. Selama harga masih bertahan di atas area ini, peluang kenaikan ke 4.085–4.100 masih terbuka, tetapi belum bisa disebut bullish kuat.
Dari sisi fundamental, tekanan utama masih datang dari dolar AS, yield Treasury, dan ekspektasi suku bunga The Fed. Jika data tenaga kerja AS seperti NFP, unemployment rate, dan pertumbuhan upah keluar kuat, maka peluang The Fed tetap hawkish bisa meningkat dan gold berisiko kembali melemah.
Kesimpulannya, gold pekan ini berpotensi bergerak sideways cenderung turun selama belum mampu menembus area 4.100–4.135. Jika harga gagal bertahan di atas 4.061, gold berisiko turun kembali ke area 4.030 hingga 4.000. Namun, jika data AS melemah, gold punya peluang rebound lebih lanjut ke area resistance tersebut.
Untuk BCO/Brent oil masih menunjukkan tekanan bearish yang cukup kuat. Struktur harga masih membentuk penurunan dari area atas, dan saat ini harga sedang berada dekat support penting 72–73. Selama belum mampu kembali naik ke atas 76–78, kenaikan minyak masih lebih terlihat sebagai technical rebound, bukan pembalikan tren besar.
Dari sisi fundamental, minyak masih ditekan oleh meredanya kekhawatiran pasokan setelah lalu lintas tanker di Selat Hormuz mulai membaik dan pasar masih berharap konflik AS-Iran tidak kembali membesar. Meski begitu, sentimen geopolitik tetap bisa menahan penurunan lebih dalam, karena Reuters mencatat harga minyak sempat rebound setelah serangan baru AS-Iran memunculkan lagi kekhawatiran gangguan pasokan.
Kesimpulannya, BCO pekan ini masih cenderung sideways bearish selama harga tertahan di bawah 76–78. Kalau tembus ke bawah 72, minyak berpotensi lanjut turun ke 70 bahkan 68. Tapi kalau mampu bertahan di atas 73,50 dan menembus 76, peluang rebound terbuka ke area 78–80.
DISCLAIMER
Catatan: Artikel ini hanya analisis dan bukan referensi definitif. Perhatikan perkembangan aspek fundamental dan teknis dalam perdagangan sebelum membuat keputusan investasi.