Bursa Asia Menguat Ditopang Optimisme AI
Bursa saham Asia bergerak menguat pada Kamis (25/06) seiring kenaikan kontrak berjangka saham Amerika Serikat setelah prospek kinerja Micron Technology Inc. yang kembali membangkitkan kepercayaan investor terhadap sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Sentimen positif tersebut mendorong kontrak Nasdaq 100 naik 1,6%, sementara kontrak S&P 500 menguat 0,4%. Di Asia, indeks Kospi Korea Selatan melonjak lebih dari 5% pada awal perdagangan, sedangkan MSCI Asia Pacific Index naik 1,1%.
Penguatan ini terjadi setelah saham Micron, produsen chip memori terbesar di Amerika Serikat, melesat sekitar 15% setelah penutupan pasar. Kenaikan tersebut dipicu oleh proyeksi penjualan kuartalan perusahaan yang jauh melampaui ekspektasi analis. Micron memperkirakan pendapatan pada kuartal fiskal keempat dapat mencapai sekitar US$50 miliar, lebih tinggi dari perkiraan rata-rata analis sebesar US$43,2 miliar. Hal ini memberi sinyal bahwa permintaan chip untuk kebutuhan AI masih kuat.
Kinerja Micron menjadi angin segar bagi pasar setelah sebelumnya saham teknologi global sempat tertekan akibat aksi jual. Selain itu, pelemahan harga minyak juga ikut membantu meredakan kekhawatiran investor. Harga Brent turun mendekati US$73 per barel setelah sebelumnya anjlok lebih dari 4%. Penurunan minyak dipengaruhi oleh tanda-tanda meningkatnya pasokan serta perkembangan positif dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Di sisi lain, perhatian pasar masih tertuju pada pergerakan dolar Amerika Serikat. Indeks dolar sempat naik ke level tertinggi dalam tujuh bulan setelah menguat selama tiga hari berturut-turut. Penguatan dolar memberi tekanan pada mata uang Asia, meskipun penurunan harga minyak dapat menjadi sedikit penyeimbang bagi negara-negara importir energi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga bergerak naik tipis menjelang rilis data inflasi PCE, indikator harga favorit Federal Reserve.
Sementara itu, harga emas bergerak stabil di sekitar US$4.000 per troy ounce setelah sebelumnya sempat turun menembus level tersebut untuk pertama kalinya sejak November. Tekanan terhadap emas datang dari dolar AS yang kembali menguat dan ekspektasi suku bunga tinggi. Pelaku pasar kini menantikan data PCE Amerika Serikat karena hasilnya berpotensi memengaruhi arah dolar, obligasi, saham teknologi, hingga aset safe haven seperti emas. (asd)
Sumber: Newsmaker.id