Wall Street Datar, Pasar Pantau Minyak dan Yield
Saham AS cenderung bergerak tipis pada Senin (18/5) setelah catatkan rekor pada pekan lalu, dengan pelaku pasar memantau arah harga minyak dan imbal hasil obligasi di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. S&P 500 naik 0,1%, Nasdaq menguat 0,3%, sementara Dow Jones bergerak nyaris datar.
Minyak terkoreksi dari level tinggi, meski tetap berada di zona elevated. Kontrak WTI turun sekitar 1% dan diperdagangkan di atas US$103 per barel, sementara Brent turun sekitar 1% dan bertahan di atas US$107 per barel.
Pergerakan hari ini terjadi setelah S&P 500 dan Nasdaq mencetak rekor baru pekan lalu, dan Dow sempat kembali menembus 50.000. Namun reli itu tersendat pada Jumat ketika imbal hasil obligasi pemerintah naik serentak di berbagai negara, dengan yield Treasury AS tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi dalam sekitar setahun, yield gilt Inggris tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak akhir 1990-an, dan yield obligasi Jepang tenor panjang ikut melonjak.
Kenaikan yield menjadi beban utama untuk saham-saham pertumbuhan yang sensitif terhadap diskonto, terutama teknologi. Nasdaq-100 turun 1,5% pada Jumat, menjadi penurunan harian terburuk sejak 27 Maret, setelah lonjakan imbal hasil menekan valuasi.
Di sisi geopolitik, tensi AS–Iran masih tinggi dan menjaga minyak tetap mahal karena arah konflik belum jelas. Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan Iran harus “segera bergerak” atau “tidak akan ada yang tersisa,” sementara negosiasi damai masih buntu. Di saat yang sama, data inflasi terbaru pekan lalu membuat peluang The Fed memangkas suku bunga dalam waktu dekat dinilai semakin kecil, sehingga pasar ekuitas tetap rentan terhadap pergerakan yield dan energi. (arl)
Sumber : Newsmaker.id