Emas Kembali Tembus US$4.500, Tapi Belum Aman
Harga emas bergerak menguat pada sesi Asia hari Selasa (02/6) dan kembali berada di atas level psikologis US$4.500 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah dolar AS kehilangan sebagian tenaga, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Sentimen positif untuk emas datang dari kabar gencatan senjata terbatas antara Israel dan Hezbollah. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Israel telah sepakat untuk menarik mundur pasukan yang sebelumnya bersiap menyerang Beirut dan wilayah sekitarnya. Di sisi lain, Hezbollah juga disebut berkomitmen untuk tidak menyerang Israel melalui komunikasi tidak langsung.
Meski begitu, penguatan emas masih terbatas. Pasar belum sepenuhnya yakin karena negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum jelas. Iran sempat memberi sinyal akan menghentikan pembicaraan setelah serangan terbaru di Lebanon, sementara Trump tetap mengatakan bahwa negosiasi masih berjalan dan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa dicapai dalam waktu dekat.
Fokus pasar kini beralih ke data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan Nonfarm Payrolls atau NFP yang akan dirilis pada Jumat. Data ini berpotensi menjadi penentu arah dolar, ekspektasi suku bunga The Fed, dan pergerakan emas berikutnya. Selama inflasi energi masih tinggi dan peluang kenaikan suku bunga tetap terbuka, emas masih belum sepenuhnya keluar dari tekanan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id