Emas Naik Tipis, Tapi Tertahan Ketidakpastian AS–Iran
Harga emas bergerak naik tipis pada Selasa (2/6), namun penguatannya terbatas karena pasar masih mendapat sinyal yang saling bertabrakan soal status dan cakupan pembicaraan damai AS–Iran. Emas spot berada di sekitar US$4.486/oz, sementara kontrak berjangka naik 0,2% ke US$4.516,62/oz, di tengah dolar dan ekuitas yang cenderung bergerak dalam rentang sempit, sementara minyak justru menguat.
Teheran untuk hari kedua mengatakan pertukaran pesan dengan Washington dihentikan, tetapi Presiden Donald Trump dan Menlu Marco Rubio menegaskan negosiasi masih berjalan. Iran melalui Fars juga melaporkan tidak ada pertukaran pesan setidaknya beberapa hari, dengan alasan memberi ruang mencapai rancangan memorandum of understanding (MoU) awal. Trump membantah keras dan menyebut komunikasi berlangsung terus-menerus, sementara Rubio di Senat menegaskan “kami sedang berunding” dan menilai ada peluang pembahasan aspek program nuklir Iran bisa terjadi kapan saja, termasuk pekan ini.
Ketidakpastian itu diperparah dinamika Lebanon. Laporan menyebut Israel–Hezbollah menuju gencatan parsial, namun Israel juga melaporkan intersepsi proyektil dari Lebanon. Di sisi AS, Trump menyatakan Hezbollah berjanji tidak menyerang Israel melalui mediator, dan mengklaim Netanyahu akan menarik langkah serangan ke Beirut. Bagi pasar, rangkaian kabar yang tidak konsisten ini membuat emas sulit mengambil arah jelas: safe haven demand ada, tetapi ketidakpastian hasil diplomasi dan dampaknya pada minyak-inflasi masih menahan reli.
Faktor nuklir tetap menjadi inti negosiasi, dengan Trump berulang kali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Di saat yang sama, pasar melihat minyak yang cenderung menguat sebagai pengingat bahwa risiko inflasi energi belum benar-benar hilang, sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama masih menjadi beban struktural bagi emas.
Di luar Timur Tengah, perhatian datang dari Eropa: laporan ECB menyebut emas menjadi aset terbesar dalam total cadangan devisa resmi global pada akhir 2025, melampaui Treasuries AS, terutama karena efek valuasi setelah lonjakan harga emas dalam dua tahun terakhir. ECB menekankan, meski peran emas naik, ada batasannya sebagai aset cadangan: volatil, tidak menghasilkan imbal hasil, serta biaya penyimpanan, dan pasokan yang tidak sepenuhnya elastis terhadap permintaan likuiditas global. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id