Emas Naik Saat Pasar Menimbang Sinyal AS-Iran dan Arah Minyak
Harga emas menguat pada Selasa(2/6) saat pelaku pasar menilai sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat dan Iran terkait peluang resolusi diplomatik di tengah kembali meningkatnya bentrokan di sekitar Selat Hormuz. Emas batangan sempat naik hingga 1,3% ke $4.540 per ons, menghapus sebagian besar pelemahan pada sesi sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran berlanjut “dengan cepat”, meredam kekhawatiran setelah sebelumnya muncul ancaman dari Teheran untuk menangguhkan diplomasi dan menutup jalur air strategis tersebut sepenuhnya. Namun, perbedaan pernyataan antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai percakapan telepon terkait pertempuran di Lebanon menambah ketidakpastian arah perundingan untuk mengakhiri konflik yang telah memicu krisis energi global dan memasuki bulan keempat.
Dari sisi transmisi fundamental, penguatan emas terjadi bersamaan dengan pelemahan harga minyak pada hari yang sama. Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, menyebut emas bergerak mengikuti “irama” minyak karena keterkaitan minyak terhadap ekspektasi inflasi, lalu berimbas pada arah suku bunga, imbal hasil, dan dolar—faktor utama yang membentuk harga emas.
Meski menguat, posisi emas masih rapuh dalam konteks lebih panjang. Sejak konflik dimulai pada akhir Februari, emas sempat turun tajam dan hingga kini masih sekitar 14% di bawah level pra-perang, walau beberapa pekan terakhir bergerak dalam kisaran sempit. Pasar menilai, jika lalu lintas energi dan perdagangan melalui Hormuz pulih, kekhawatiran inflasi bisa mereda dan membuka peluang pelonggaran kebijakan moneter—kondisi yang umumnya mendukung emas karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Namun, ruang pelonggaran kebijakan itu berpotensi dibatasi oleh kekuatan data AS. Aktivitas manufaktur AS pada Mei dilaporkan berkembang dengan laju tercepat dalam empat tahun dan mencatat bulan kelima berturut-turut ekspansi, yang dapat mengurangi urgensi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Rhona O’Connell dari StoneX menilai prospek emas tetap sangat bergantung pada perkembangan Timur Tengah; meski ada kemajuan, isu utama masih belum terselesaikan sehingga harga berpeluang bertahan dalam kisaran tertentu, dengan kecenderungan bias melemah bila ekspektasi suku bunga tetap tinggi.
Pada pukul 12.52 di London, emas spot naik 1% menjadi $4.528,93 per ons. Perak naik 2,1% menjadi $76,42 per ons, sementara platinum dan paladium juga menguat. Indeks Spot Dolar Bloomberg turun 0,1%, menambah dukungan teknikal bagi logam mulia pada sesi tersebut.
5 Inti Poin
-Emas naik, dipicu ketidakpastian sinyal AS-Iran dan risiko di Selat Hormuz.
-Emas sempat menguat hingga 1,3% ke $4.540 per ons, menghapus pelemahan sesi sebelumnya.
-Koreksi harga minyak ikut menopang emas melalui kanal inflasi, suku bunga, imbal hasil, dan dolar.
-Emas masih sekitar 14% di bawah level pra-perang dan bergerak dalam kisaran sempit beberapa pekan terakhir.
-Data manufaktur AS yang kuat berpotensi membatasi ekspektasi pemangkasan suku bunga, sehingga menahan ruang kenaikan emas.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id