Emas Menguat, Gencatan Terbatas Lebanon Tekan Dolar
Emas (XAU/USD) mempertahankan kenaikan intraday yang moderat hingga paruh pertama sesi Eropa pada Selasa (2/6), tetapi belum mendapat dorongan beli lanjutan dan masih tertahan di bawah puncak pergerakan hari sebelumnya. Pasar menilai meredanya risiko eskalasi regional memberi ruang pemulihan, namun ketidakpastian diplomasi AS–Iran membuat arah tetap rapuh.
Dukungan awal datang setelah gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel meredakan kekhawatiran konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Kondisi itu mengurangi permintaan safe haven terhadap dolar AS, sehingga memberi angin bagi bullion.
Presiden AS Donald Trump mengatakan Israel setuju menarik mundur pasukan yang sebelumnya bersiap menyerang Beirut dan wilayah pinggiran yang dikuasai Hezbollah. Trump juga menyebut telah berkomunikasi melalui perantara dan mendapatkan komitmen bahwa Hezbollah tidak akan menyerang Israel, tetapi de-eskalasi yang terbatas dinilai belum cukup untuk mengubah sentimen pasar secara tegas.
Di sisi lain, sinyal yang beragam soal perundingan damai AS–Iran tetap menjadi penopang bagi dolar. Iran memperingatkan akan menangguhkan negosiasi setelah serangan terbaru dan operasi militer Israel di Lebanon, sementara Trump menegaskan pembicaraan masih berlangsung dan membuka peluang kesepakatan memperpanjang gencatan senjata serta membuka kembali Selat Hormuz dalam sepekan ke depan.
Bagi emas, tarik-menarik utamanya berada pada dua kanal. De-eskalasi mengurangi kebutuhan lindung nilai, tetapi ketidakpastian negosiasi menjaga premi risiko tetap hidup. Pada saat yang sama, kekhawatiran inflasi terkait harga energi dan prospek kenaikan suku bunga berpotensi menahan pelemahan dolar lebih jauh, sekaligus membatasi ruang kenaikan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada rilis JOLTS Job Openings AS pada sesi Amerika Utara, dengan perhatian utama tetap pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Jumat. Di luar data, perkembangan seputar negosiasi AS–Iran, dinamika konflik di Timur Tengah, dan pergerakan harga energi menjadi variabel kunci yang berpotensi kembali mengubah arah dolar dan emas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id