Wall Street Melemah Setelah Cetak Rekor
Bursa saham Amerika Serikat melemah pada perdagangan Jumat (15/5) setelah sebelumnya sempat mencetak rekor. Tekanan datang dari kenaikan harga energi dan kekhawatiran bahwa Federal Reserve masih dapat mempertahankan sikap hawkish lebih lama. Indeks S&P 500 turun 1%, Nasdaq melemah 1,7%, sementara Dow Jones terkoreksi 0,7%.
Pelemahan terbesar terjadi pada saham-saham teknologi besar, terutama emiten yang terkait dengan kecerdasan buatan, hyperscaler, dan infrastruktur digital. Setelah reli spekulatif yang didorong laporan keuangan dan proyeksi bisnis yang kuat sepanjang pekan, investor mulai melakukan aksi ambil untung. Saham Nvidia, Tesla, Amazon, Oracle, dan Alphabet tercatat melemah hingga 4%.
Tekanan pasar juga meluas ke sektor lain seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi. Harga energi yang tinggi dapat kembali mendorong biaya produksi dan harga barang, sehingga memperkuat alasan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga ketat. Data ekonomi AS yang solid, termasuk klaim pengangguran yang rendah, kenaikan tajam retail sales control group, dan lonjakan inflasi produsen, semakin memperkuat kekhawatiran tersebut.
Saham Boeing juga masih berada di bawah tekanan setelah sebelumnya anjlok 5%. Pelemahan berlanjut karena pesanan baru dari maskapai China dilaporkan hanya sekitar separuh dari ekspektasi pasar. Di sisi lain, saham Pershing Square yang baru melantai di bursa turun 1% setelah mengungkap kepemilikan saham di Microsoft.
Secara opini, koreksi Wall Street kali ini lebih terlihat sebagai kombinasi aksi ambil untung dan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga. Reli saham teknologi dan AI memang masih memiliki daya tarik jangka panjang, tetapi valuasi yang sudah tinggi membuat pasar rentan terhadap sentimen negatif. Selama harga energi tetap tinggi dan data ekonomi AS masih kuat, investor kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.(yds)
Sumber: Newsmaker.id