Saham AS Tergelincir, Menuju Pekan Penurunan ke-4 Beruntun di Tengah Perang Iran
Saham-saham AS melemah pada Jumat (20/3), sementara pelaku pasar terus memantau perang Iran yang masih terus berlanjut. Tiga indeks utama bergerak menuju pekan penurunan beruntun berikutnya, memperpanjang tekanan yang sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Dow Jones Industrial Average turun 239 poin atau 0,5%. S&P 500 melemah 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite jatuh 1,2%.
Tekanan muncul setelah Iran dan Israel saling melancarkan serangan sepanjang malam. Iran juga disebut meluncurkan serangan baru terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk Persia. Di saat yang sama, The Wall Street Journal melaporkan, mengutip pejabat AS, Pentagon mengirimkan ribuan personel Marinir tambahan ke Timur Tengah.
Dari sisi transmisi ke pasar, eskalasi geopolitik yang menyentuh risiko infrastruktur energi menjaga premi risiko pada harga minyak dan biaya energi. Kondisi itu berpotensi mengerek ekspektasi inflasi dan menahan ruang pelonggaran kebijakan, sehingga sentimen terhadap aset berisiko seperti saham menjadi lebih rapuh, terutama di sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
Ross Mayfield, ahli strategi investasi Baird, menilai bila eskalasi berkembang menjadi keterlibatan pasukan di darat, pasar bisa menghadapi periode beberapa pekan dengan harga minyak dan bensin yang tinggi, serta volatilitas yang sangat bergantung pada setiap berita terkait infrastruktur energi di kawasan. Ia juga menambahkan bahwa pasar ekuitas belum sepenuhnya mencerminkan skala risiko peristiwa tersebut, sehingga peluang pelemahan lanjutan masih terbuka.
Di ranah politik, Presiden Donald Trump melanjutkan kritiknya terhadap NATO dan menyebut aliansi itu “macan kertas” tanpa dukungan AS. Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menautkan kenaikan harga minyak dengan isu pembukaan Selat Hormuz, dan menyatakan pihak lain mengeluhkan harga minyak tinggi namun tidak ingin membantu upaya membuka jalur tersebut.
Pelaku pasar akan memantau perkembangan serangan di kawasan, kabar terkait keamanan fasilitas energi dan jalur pengiriman, dinamika Selat Hormuz, serta arah harga minyak dan biaya energi yang menjadi kanal utama tekanan ke ekuitas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id