Emas Konsolidasi, Pasar Tunggu Langkah Trump
Harga emas cenderung stabil pada Selasa (7/4) setelah dua sesi melemah, ketika pelaku pasar menimbang ancaman terbaru Presiden AS Donald Trump untuk menghancurkan infrastruktur Iran dan dampak perang berkepanjangan terhadap pertumbuhan. Bullion sempat turun hingga 0,7% ke bawah US$4.620 per ons, setelah terkoreksi lebih dari 2% dalam dua sesi sebelumnya, sebelum memangkas penurunan.
Trump menetapkan tenggat Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran atau memulai serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan, memperbesar taruhan di konflik yang memicu pengetatan pasokan energi global dan mengangkat kekhawatiran inflasi. Perang yang memasuki pekan keenam meningkatkan kemungkinan bank sentral menunda pemangkasan suku bunga atau bahkan menaikkan, sementara pasar obligasi menilai The Fed berpotensi menahan suku bunga hingga akhir tahun. Biaya pinjaman yang lebih tinggi biasanya membebani emas karena tidak memberikan imbal hasil.
Sejak konflik dimulai akhir Februari, emas turun sekitar 12% karena daya tarik safe haven juga tergerus oleh kebutuhan investor melikuidasi posisi untuk menutup kerugian di aset lain. Emas juga bergerak cenderung berlawanan arah dengan minyak, yang naik untuk hari ketiga. Namun, guncangan pasokan energi dan tekanan biaya dinilai turut menekan pertumbuhan, faktor yang bisa kembali mendukung emas. Data terbaru menunjukkan ekonomi jasa AS masih ekspansi tetapi melambat pada Maret, dengan penurunan komponen tenaga kerja terbesar sejak 2023 dan percepatan harga input.
Di sisi positioning, terdapat indikasi pembelian saat harga turun: kepemilikan ETF emas naik pekan lalu untuk pertama kalinya sejak perang dimulai. Trump menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz harus menjadi bagian dari kesepakatan apa pun, sementara Iran sejauh ini menolak proposal AS dan memperingatkan akan meningkatkan serangan jika mendapat serangan tambahan.
Pada 09.15 London, spot gold naik tipis ke US$4.661,25/oz. Perak turun 0,1% ke US$72,70, platinum melemah, dan paladium berfluktuasi, sementara indeks dolar Bloomberg relatif datar. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id