Mediasi Pakistan Masuk Fase Kritis, Pasar Siaga Tenggat Trump
Upaya mediasi Pakistan untuk meredakan perang Iran disebut mendekati tahap “kritis dan sensitif” menjelang tenggat Selasa (7/4) malam yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Teheran untuk menerima kesepakatan gencatan senjata. Pernyataan itu disampaikan Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, yang hanya menulis “stay tuned” tanpa merinci perkembangan pembicaraan.
Trump sebelumnya menyatakan akan menargetkan “setiap jembatan” dan “pembangkit listrik” di Iran jika kesepakatan tidak tercapai pada Selasa pukul 20.00 ET, serta mensyaratkan dibukanya kembali Selat Hormuz. Penutupan efektif jalur itu bagi lalu lintas tanker telah mengangkat harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi, dengan minyak kembali menembus US$110 per barel pada Selasa, jauh di atas kisaran pra-perang sekitar US$70 per barel. Selat Hormuz biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan berkepanjangan berpotensi menekan pertumbuhan global melalui kanal biaya energi.
Di balik retorika keras, Trump juga memberi ruang bahwa solusi diplomatik masih mungkin. Laporan media menyebut Washington dapat menunda aksi militer jika ada sinyal kesepakatan sudah dekat. Axios, mengutip pejabat AS, mengatakan Trump tetap terbuka menerima kesepakatan apa pun yang muncul dari pembicaraan, meski belum jelas apakah Iran siap memberikan konsesi yang dibutuhkan.
Konflik sendiri terus melebar di kawasan, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan operasi Israel terhadap kelompok Hizbullah yang berafiliasi dengan Iran di Lebanon. Iran dan Israel juga dilaporkan saling melancarkan serangan pada Selasa, sementara Wall Street Journal mengutip sejumlah pejabat yang mengatakan militer AS mempersiapkan opsi serangan terhadap target energi di Iran.
Teheran sebelumnya menolak usulan mediator untuk jeda 45 hari sebagai imbalan pembukaan Hormuz, dan media pemerintah Iran menyebut negara itu menyampaikan rencana 10 poin ke Washington yang dinilai kecil kemungkinannya memenuhi tuntutan Trump. Pasar kini memantau apakah mediasi menghasilkan perpanjangan waktu, bentuk kompromi soal Hormuz, atau justru memicu eskalasi yang memperbesar premi risiko energi dan memperkuat tekanan inflasi. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id