Emas Tertahan di Bawah US$4.500, Minyak Naik Hidupkan Lagi Kekhawatiran Inflasi
Harga emas melemah pada Rabu (03/6) dan masih kesulitan kembali ke atas US$4.500 setelah sempat memantul dari area US$4.550. Tekanan muncul ketika pasar kembali menilai suku bunga global akan bertahan tinggi lebih lama, membuat emas—sebagai aset tanpa imbal hasil—kehilangan daya tarik dibanding instrumen berbunga.
Pemicunya terutama datang dari kenaikan harga minyak yang berlanjut tiga hari berturut-turut. Lonjakan energi memperkuat kekhawatiran inflasi, sehingga investor kembali mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter. Di saat yang sama, dolar AS tetap relatif kuat karena kebutuhan safe haven dan karena pasar menilai The Fed belum punya ruang besar untuk melunak.
Ketegangan geopolitik juga meningkat. Militer AS (CENTCOM) menyebut pasukannya melakukan serangan “self-defense” di Pulau Qeshm milik Iran. Iran dilaporkan membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain, meski banyak yang berhasil dicegat. Konflik Israel–Hezbollah pun disebut makin intens, sementara kebuntuan soal program nuklir Iran dan status Selat Hormuz menjaga risiko eskalasi tetap tinggi.
Di jalur diplomasi, sinyalnya belum memberi ketenangan. Menlu AS Marco Rubio mengatakan Washington tidak akan mencabut sanksi hanya sebagai imbalan pembukaan penuh Hormuz, dan pelonggaran sanksi bergantung pada langkah Iran terkait uranium yang diperkaya. Di sisi lain, Presiden Donald Trump disebut menegaskan blokade AS akan berlanjut sampai negosiasi selesai, membuat pasar melihat proses masih panjang dan penuh risiko.
Kombinasi minyak yang lebih mahal dan ketidakpastian geopolitik membuat pasar kembali menilai bank sentral akan lebih hawkish. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, menekankan komitmen untuk mengembalikan inflasi ke 2% dan membuka peluang perlunya tindakan jika inflasi tidak mendingin. CME FedWatch juga menunjukkan probabilitas di atas 50% untuk kenaikan suku bunga 25 bps pada pertemuan Desember, memperkuat posisi yield AS tetap tinggi.
Dengan latar ini, emas menjadi tertekan dari dua sisi sekaligus: dolar/yield yang kuat dan narasi inflasi energi yang belum mereda. Selama harga minyak bertahan tinggi dan pasar masih mem-price-in risiko pengetatan lanjutan, pemulihan emas cenderung terbatas dan pergerakannya tetap sensitif terhadap headline Timur Tengah serta sinyal kebijakan The Fed.(asd)
Source: Newsmaker.id