Diplomasi Iran Angkat Emas, Tapi Yield Menahan
Harga emas (XAU/USD) mempertahankan kenaikan moderat pada Senin (6/4) seiring dolar AS melemah di tengah membaiknya sentimen pasar, setelah muncul perkembangan diplomatik baru terkait upaya mengakhiri perang AS-Iran. Pada saat laporan ini disusun, emas diperdagangkan di sekitar US$4.684, memantul dari low intraday dekat US$4.600.
Axios melaporkan AS dan Iran, bersama mediator regional, membahas opsi gencatan senjata 45 hari yang dapat membantu mengakhiri konflik. Secara terpisah, Reuters menyebut Washington dan Teheran telah menerima kerangka kesepakatan dua tahap untuk menghentikan permusuhan, yang berpotensi berlaku secepat Senin dan membuka kembali Selat Hormuz. Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyatakan Teheran telah menyusun respons diplomatik kepada AS dan akan diumumkan pada waktunya.
Meski upaya diplomasi meredakan ketegangan jangka pendek, pasar tetap menimbang risiko eskalasi setelah Presiden Donald Trump mengancam serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur sipil jika Hormuz tidak dibuka kembali dan tidak ada kesepakatan hingga Selasa pukul 20.00 waktu Timur AS. Harga minyak terkoreksi tipis dari puncak terbaru, namun masih tinggi dibanding level pra-perang, menjaga risiko inflasi dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan global.
Di sisi kebijakan moneter, ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi untuk lebih lama—atau bahkan kenaikan lanjutan—membatasi ruang naik emas karena imbal hasil yang lebih tinggi menekan daya tarik aset non-yielding. Dari data, ISM Services PMI turun ke 54,0 pada Maret dari 56,1 dan di bawah ekspektasi 55. Pasar kini menanti sinyal The Fed dan rilis inflasi pekan ini, termasuk CPI dan PCE, setelah NFP pekan lalu tercatat lebih kuat dari perkiraan. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id