Dolar Dekati Level Tertinggi Dua Bulan
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) menguat ke level tertinggi dalam dua bulan, terdorong oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1% setelah sebelumnya melonjak 0,6% pada Jumat lalu, sebelum memangkas sebagian kenaikan. Investor global mulai menimbang kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menyusul data makro terbaru dan risiko inflasi yang membesar.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun naik 4 basis poin menjadi 4,57%. Sementara kontrak opsi menunjukkan risk reversal satu tahun naik di atas 60bps, menandakan sentimen pelaku pasar lebih memilih posisi call daripada put. Tren ini sudah stabil sejak pertengahan April 2026, mencerminkan dominasi pembelian dolar oleh akun makro dan leverage.
Pasangan mata uang utama bereaksi beragam. USD/JPY turun hingga 0,3% ke level 159,86 karena posisi stop-loss terpicu, sementara dana leveraged meningkatkan posisi short bersih pada yen ke level tertinggi sejak Juli 2024. Di sisi lain, EUR/USD melemah 0,1% ke 1,1508, di tengah kekhawatiran bahwa langkah ECB mempertahankan kredibilitas inflasi bisa memicu risiko kebijakan.
Para analis menekankan bahwa fokus investor kini tertuju pada data inflasi AS (CPI) yang akan dirilis pekan ini, sebagai acuan untuk menilai arah kebijakan moneter The Fed. Kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar diperkirakan tetap menjadi katalis utama bagi pergerakan pasar mata uang global.
Dengan situasi geopolitik yang tetap tegang, pasar juga memperhatikan eskalasi konflik Iran dan potensi dampaknya pada arus minyak global. Lonjakan harga energi menambah tekanan inflasi, sehingga membuat dolar AS tetap diminati sebagai safe-haven, sementara mata uang lain cenderung mengalami tekanan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id