Euro Tertekan, Dolar AS Masih Lebih Unggul
Euro bergerak melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (6/7) setelah investor kembali dari libur panjang Hari Kemerdekaan AS. EUR/USD diperdagangkan di sekitar level 1,1421, turun 0,12%.
Pergerakan pasar masih relatif terbatas di awal pekan. Investor sedang menilai ulang arah kebijakan moneter Federal Reserve dan European Central Bank. Turunnya harga minyak setelah kesepakatan damai sementara AS-Iran ikut meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga tekanan bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga secara agresif mulai berkurang.
Dari Amerika Serikat, data Nonfarm Payrolls pekan lalu yang lebih lemah dari perkiraan membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat ikut menurun. Namun, di Eropa, data inflasi zona euro yang lebih rendah dari perkiraan juga mengurangi peluang kenaikan suku bunga ECB tahun ini.
Analis ING, Chris Turner, mengatakan peluang kenaikan suku bunga ECB pada September kini dihargai pasar kurang dari 50%. Meski begitu, ECB dinilai masih terlalu dini untuk menyatakan inflasi sudah aman, karena inflasi inti masih berisiko naik dalam beberapa bulan ke depan.
Saat ini, selisih suku bunga masih lebih menguntungkan dolar AS. Suku bunga The Fed berada di kisaran 3,50%–3,75%, sementara suku bunga deposito ECB berada di 2,25%. Kondisi ini membuat dolar tetap memiliki daya tarik lebih kuat dibanding euro.
Indeks dolar AS atau DXY bergerak di sekitar 101,04, rebound dari level terendah pekan lalu di 100,56. Dari sisi data ekonomi, ISM Services PMI AS turun ke 54,0 pada Juni dari 54,5 pada Mei, tetapi masih sesuai ekspektasi dan menandai ekspansi sektor jasa selama 23 bulan berturut-turut. Selama dolar masih ditopang selisih suku bunga dan data AS tidak melemah tajam, EUR/USD berpotensi tetap bergerak hati-hati. (arl)
Sumber : Newsmaker.id