Minyak Stabil, Risiko Pasokan Berlebih Menguat
Harga minyak bergerak stabil pada awal pekan setelah mencatat kenaikan selama dua hari sebelumnya. Pasar mencermati arus pengiriman melalui Selat Hormuz yang terus berjalan, sementara OPEC+ memberi sinyal akan menambah pasokan. Kondisi ini kembali memunculkan kekhawatiran bahwa pasar minyak global bisa menghadapi kelebihan pasokan.
Brent bertahan di dekat level US$72 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI berada di atas US$69 per barel. Aktivitas pengiriman minyak dan gas melalui jalur yang dilindungi Amerika Serikat di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda pemulihan pada Minggu. Sebelumnya, beberapa kapal sempat berbalik arah dan mengambil rute memutar tanpa penjelasan jelas di jalur energi penting tersebut.
Di sisi lain, OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi secara moderat untuk bulan depan. Tujuh negara yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia sepakat menambah produksi sebesar 188.000 barel per hari. Tambahan pasokan ini memang belum sepenuhnya masuk ke pasar, tetapi keputusan tersebut menunjukkan bahwa kelompok produsen mulai bersiap meningkatkan output saat kondisi kawasan mulai normal.
Harga Brent sebelumnya jatuh sekitar 30% pada kuartal kedua setelah Washington dan Teheran menyepakati perjanjian damai sementara. Kesepakatan itu membuka jalan bagi pemulihan arus kapal melalui Selat Hormuz, meski belum sepenuhnya normal. Dengan kondisi tersebut, sejumlah bank Wall Street memperkirakan harga minyak masih berpeluang turun lebih jauh pada paruh kedua tahun ini. Citigroup bahkan melihat kemungkinan harga kembali ke area US$60 per barel pada akhir tahun.
Produsen utama di Teluk Persia juga mulai meningkatkan produksi dan ekspor dengan cepat. Arab Saudi sudah mengirim minyak mendekati level sebelum perang setelah lebih banyak kapal tankernya berhasil melewati Selat Hormuz. Uni Emirat Arab, yang keluar dari OPEC selama konflik berlangsung, juga telah memulihkan arus ekspornya.
Pelaku pasar kini menunggu harga jual resmi dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan produsen lain pada pekan ini. Harga tersebut akan menjadi petunjuk seberapa agresif produsen membawa kembali pasokan ke pasar. Untuk Juli, Arab Saudi memangkas premi minyak utama ke Asia menjadi US$9,50 per barel, turun dari US$15,50 pada Juni.
Pada pukul 10.19 waktu Singapura, Brent untuk kontrak September naik tipis 0,2% ke US$72,27 per barel. Brent sempat menyentuh US$70,14 pada 2 Juli, level terendah sejak Februari. Sementara itu, WTI untuk pengiriman Agustus berada di US$69,03 per barel, naik 0,5% dibanding penutupan sebelumnya sebelum libur pasar Amerika Serikat.
Tanda-tanda pasar minyak mulai longgar juga terlihat dari struktur harga Brent dan Dubai yang berubah ke pola contango. Dalam kondisi ini, kontrak jangka pendek diperdagangkan lebih murah dibanding kontrak jangka panjang, yang biasanya menunjukkan pasokan dekat waktu cukup melimpah. Di akhir pekan, Iran juga memulai pemakaman massal untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, setelah ia tewas dalam serangan AS dan Israel pada awal perang akhir Februari.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id