Emas Turun, Reli Mulai Tertahan
Harga emas melemah pada perdagangan Senin (6/7) setelah sebelumnya mencatat kenaikan mingguan pertama sejak Mei. Logam mulia turun setelah pasar mulai menyesuaikan posisi, meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve mulai mereda.
Emas sempat turun hingga 1% ke sekitar US$4.137 per troy ounce. Pada pekan lalu, emas berhasil naik lebih dari 2% dan memutus tren pelemahan selama empat pekan berturut-turut. Namun, penguatan tersebut mulai tertahan karena sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung.
Pada pukul 10.51 waktu London, emas spot turun 0,8% ke level US$4.142,38 per troy ounce. Perak melemah 0,8%, sementara platinum dan palladium bergerak relatif stabil. Di sisi lain, indeks dolar Bloomberg naik 0,2% setelah pada pekan lalu sempat turun 0,3%.
Sentimen utama emas masih dipengaruhi oleh data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih lemah dan harga minyak yang turun. Dua faktor ini membuat investor mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pasar swap kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Juli berada di sekitar 25%.
Harga minyak yang melemah juga ikut meredakan kekhawatiran inflasi. Minyak turun karena semakin banyak kapal tanker melewati Selat Hormuz dan OPEC+ memberi sinyal akan menambah pasokan crude. Kondisi ini membuat tekanan inflasi dari sektor energi mulai berkurang.
Meski begitu, pasar masih mencermati risiko inflasi lain, seperti tekanan harga dari investasi berbasis kecerdasan buatan atau AI dan gangguan pasokan akibat cuaca. Selain itu, penguatan dolar AS ikut menekan emas karena membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain.(yds)
Sumber: Newsmaker.id