Ditengah Aksi Jual, Perak Rontok Hampir 10%
Harga perak anjlok hampir 10% hingga menembus di bawah $76 per ons, sehingga memperpanjang pembalikan tajam setelah gelombang likuidasi luas di pasar keuangan memaksa investor melepas logam mulia demi mendapatkan dana tunai.
Penurunan makin cepat terjadi meski imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) justru turun ke level terendah dalam beberapa bulan. Sinyal ini menunjukkan pergerakan perak kali ini lebih sedikit dipicu oleh perubahan ekspektasi suku bunga, dan lebih banyak didorong oleh tekanan likuiditas serta pembongkaran posisi yang berlangsung cepat pasca reli panjang sebelumnya.
Aksi sell-off tersebut sejalan dengan kerugian besar pada emas dan tembaga, menegaskan bahwa tekanan kini bersifat lintas-komoditas. Walaupun pasar masih menantikan data CPI yang lebih jinak dan tetap memperhitungkan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini, arus transaksi jangka pendek saat ini didominasi oleh proses deleveraging (pengurangan leverage) dan penutupan posisi.
Volatilitas perak turut diperbesar oleh “dua wajahnya” sekaligus: sebagai aset moneter dan logam industri. Peran ganda ini membuat perak lebih sensitif ketika pasar mulai khawatir soal prospek pertumbuhan global—sehingga ayunannya cenderung lebih ekstrem dibanding logam mulia lain.
Meski terpukul, turunnya yield dan permintaan lindung nilai jangka panjang yang terkait dengan ketidakpastian fiskal tetap menjadi penopang struktural—setidaknya setelah tekanan jual paksa mulai mereda.(yds)
Sumber: Tradingeconomics.com