Perak “Babak Belur”, Dolar & Fed Jadi Beban Utama
Perak masih “babak belur” di Kamis ini (5/2), meski sudah sempat memangkas sebagian kerugian jelang sesi Eropa. XAG/USD terakhir bergerak di kisaran $80,5/oz, setelah sebelumnya dibuka sekitar $88,2. Artinya, perak masih turun kurang lebih 8–9% untuk hari ini, walau tidak sedalam titik panik di awal sesi.
Yang bikin market kaget: tekanan jual sempat meledak dan menyeret harga ke rentang harian $73,56–$90,41—menunjukkan volatilitas yang ekstrem. Jadi, walaupun sekarang sudah “naik” dari dasar intraday, perak tetap berada di zona rawan karena pelaku pasar masih mencari “lantai harga” yang jelas.
Dari sisi fundamental, nada The Fed kembali jadi beban. Gubernur Fed Lisa Cook menegaskan fokusnya tetap di inflasi dan ingin melihat bukti yang lebih kuat sebelum mendukung pemangkasan suku bunga lanjutan. Pesan ini cenderung dibaca hawkish: yield bisa bertahan tinggi, dan itu biasanya kurang ramah untuk logam mulia yang tidak memberi imbal hasil.
Faktor kedua: dolar AS. Saat dolar menguat, perak (yang dihargai dalam dolar) jadi lebih mahal bagi pembeli di luar AS, otomatis permintaan melemah. Ditambah lagi, ekspektasi bahwa suku bunga bisa “lebih lama tinggi” membuat biaya peluang memegang perak ikut naik.
Sementara itu, sisi geopolitik sempat mengangkat safe-haven, tapi momentumnya cepat memudar ketika pasar melihat peluang diplomasi AS–Iran tetap berjalan. Konfirmasi perundingan membuat sebagian risk premium yang sempat masuk ke logam mulia jadi berkurang—meski headline yang berubah-ubah tetap bikin market gampang tersentak.
Kesimpulannya: perak sedang berada di fase “reprice” pasca gejolak besar—rebound bisa terjadi, tapi jalannya tidak akan mulus. Selama dolar masih kuat dan pasar menahan ekspektasi rate cut, perak berpotensi tetap bergerak agresif dalam range lebar, dan headline geopolitik bisa jadi pemicu lonjakan volatilitas berikutnya. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id