Minyak Berbalik Turun Risk Premium Mulai Susut
Harga minyak turun untuk pertama kalinya dalam tiga hari setelah Iran mengonfirmasi bahwa negosiasi dengan Amerika Serikat akan digelar Jumat di Oman. Kepastian jadwal diplomasi ini langsung menurunkan kekhawatiran pasar soal opsi serangan militer dalam waktu dekat terhadap salah satu produsen utama OPEC.
Brent melemah mendekati $68/barel setelah sebelumnya menguat total 4,8% dalam dua sesi. WTI ikut turun dan bergerak di bawah $64/barel, menandakan sebagian pelaku pasar mulai mengurangi posisi risk-on yang sempat dibangun saat tensi meningkat.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya tenang. Perbedaan pandangan soal format dan “parameter” pembicaraan membuat peluang tercapainya kesepakatan cepat masih abu-abu. Apalagi kawasan Timur Tengah menyuplai sekitar sepertiga minyak dunia—jadi sedikit saja eskalasi bisa langsung mengangkat harga lewat premi risiko geopolitik.
Fokus investor juga terbagi ke isu lain, termasuk pembicaraan perdamaian Ukraina. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyebut prosesnya bisa terdampak oleh serangan Rusia terhadap infrastruktur energi, dan ia meminta dukungan tambahan dari AS untuk menekan Moskow menghentikan perang.
Di sisi pasar komoditas yang lebih luas, sentimen juga terganggu oleh guncangan logam mulia. Perak ambles lebih dari 16% dan menghapus reli dua hari, sementara emas sempat turun hingga 3,5%. Gelombang risk-off seperti ini bisa menambah volatilitas lintas aset, termasuk energi.
Dari sisi fundamental AS, data persediaan minyak mentah EIA menunjukkan stok turun ke level terendah dalam satu bulan, tetapi penurunannya lebih kecil dari ekspektasi sebelumnya. Itu membuat dampak bullish dari data inventory jadi terbatas.
Update harga terakhir: Brent April turun 2% ke $68,05/barel pada 12:01 siang waktu Singapura, sementara WTI Maret turun 1,9% ke $63,88/barel.(asd)
Sumber: Newsmaker.id