Perak Ambles Dua Digit, Reli 2 Hari Ludes
Harga perak jatuh tajam pada Kamis dan langsung menghapus pemulihan dua hari terakhir, menandakan pasar masih kesulitan menemukan level dasar setelah gejolak besar yang terjadi pekan lalu. Emas ikut melemah di tengah perdagangan yang tetap “choppy” alias naik-turun dengan cepat.
Pada sesi Kamis, spot perak sempat naik hingga 16,6%, setelah sebelumnya berhasil pulih dan kembali menembus $90/ons di awal perdagangan Asia. Pada saat yang sama, emas spot sempat turun hingga 3,5% sebelum memangkas penurunan seiring volatilitas yang tinggi.
Menurut sejumlah pelaku pasar, tekanan tidak hanya datang dari logam mulia, tetapi juga dari sentimen yang melemahkan berbagai aset berisiko. Likuiditas pasar yang tipis membuat pergerakan harga terasa “lebih bohong”, sehingga penurunan bisa cepat melebar saat aksi penjualan terjadi secara beruntun.
Konteks besarnya: logam mulia sempat reli kuat bulan lalu, ditopang momentum spekulatif, ketegangan geopolitik, dan kekhawatiran tentang independensi bank sentral AS. Namun reli itu tiba-tiba patah di akhir pekan lalu—perak mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah, sementara emas mengalami penurunan terdalam sejak 2013.
Pasar juga masih memahami kebijakan setelah Kevin Warsh masuk radar sebagai calon ketua Federal Reserve. Presiden AS Donald Trump menyatakan ia tidak akan menunjuk Warsh jika Warsh berniat menaikkan suku bunga, dan menyiratkan peluang penurunan suku bunga masih terbuka—sebuah faktor yang biasanya mendukung logam mulia karena emas/perak tidak memberi imbal hasil bunga.
Meski demikian, analis menilai volatilitas belum akan cepat reda sebelum arah kebijakan moneter terlihat lebih jelas. Sebagian gejolak jangka pendek juga dipicu oleh investor yang menarik dana dari produk berbasis logam mulia (seperti ETP/ETF), yang dapat meningkatkan tekanan jual ketika arus keluar meningkat.
Update harga pada 11:18 waktu Singapura: perak turun 12,7% menjadi $76,9495/ons, sementara emas spot turun 2,1% menjadi $4.859,20/ons. Platinum dan paladium ikut melemah, sedangkan indeks dolar Bloomberg naik tipis 0,1%—menambah tekanan bagi komoditas yang dihargai dalam dolar.(asd)
Sumber: Newsmaker.id