Perak di Area Tertinggi, China Ikut Panaskan Pasar
Harga perak bertahan di kisaran $115 per ons pada Rabu (28/1), tetap di dekat puncak terbaru. Dorongan utamanya datang dari kombinasi permintaan aset aman dan dolar AS yang melemah tajam, ditambah pembelian fisik yang masih kuat dari pasar ritel.
Komentar Presiden Donald Trump yang terkesan meremehkan pelemahan dolar—hingga menyentuh level terendah empat tahun—ikut memunculkan persepsi bahwa pemerintah tidak terlalu keberatan dengan mata uang yang lebih lemah. Di saat yang sama, pasar masih dibayangi ancaman tarif baru dan ketegangan terkait independensi The Fed, sehingga arus minat ke logam mulia tetap terjaga.
Dari sisi kebijakan, keputusan The Fed untuk menahan suku bunga di 3,50%–3,75% tidak memberi sinyal arah yang tegas, tetapi justru memperkuat suasana ketidakpastian kebijakan. Kondisi seperti ini biasanya mendukung aset yang tidak memberikan imbal hasil, termasuk logam mulia.
Yang membuat perak terlihat “beda” dibanding logam lain adalah sinyal pasar yang makin ketat, terutama di Tiongkok. Sejumlah dana perak murni sempat menangguhkan perdagangan setelah lonjakan permintaan mendorong premi harga jauh di atas nilai aset bersih (NAV). Di sisi suplai, produsen juga mulai mengalihkan output dari perhiasan ke batangan investasi 1 kilogram, yang membuat pasokan lebih terbatas dan membantu menjaga harga tetap tinggi. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id