Minyak Menuju Penurunan Mingguan Terdalam Sejak Juni
Harga minyak stabil pada hari Jumat (8/8), namun bersiap mencatatkan penurunan mingguan terdalam sejak akhir Juni, di tengah kekhawatiran atas prospek ekonomi akibat tarif baru dan potensi pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Kontrak berjangka naik 21 sen atau 0,32% menjadi $66,64 per barel (pukul 09:01 GMT)
Kontrak berjangka WTI (West Texas Intermediate) naik 18 sen atau 0,28% menjadi $64,06 per barel
Namun secara mingguan:
Brent diperkirakan turun 4,3%
WTI diperkirakan turun 4,9% dibandingkan penutupan Jumat lalu
Tarif AS Picu Kekhawatiran Ekonomi dan Permintaan Energi
Kenaikan tarif AS terhadap berbagai mitra dagang mulai berlaku Kamis, memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dan permintaan terhadap minyak mentah, menurut analis ANZ Bank.
Ini terjadi di tengah kondisi pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan, dan pengumuman Kremlin bahwa Putin dan Trump akan bertemu dalam beberapa hari ke depan, di saat ketegangan perdagangan antara AS dan konsumen minyak Rusia meningkat.
Trump juga mengancam akan menaikkan tarif terhadap India jika negara tersebut terus membeli minyak Rusia. Pasar melihat hal ini sebagai tekanan tambahan pada Rusia untuk mencapai kesepakatan dengan AS, menurut analis independen Tina Teng.
China — pembeli terbesar minyak Rusia — juga disebut-sebut bisa dikenai tarif tambahan seperti India.
Harapan Diplomatik dan Potensi Pelonggaran Sanksi
Rencana pertemuan ini memicu harapan akan penyelesaian diplomatik perang di Ukraina, yang bisa membuka peluang pelonggaran sanksi terhadap Rusia. Pasar saham Rusia pun mengalami penguatan setelah kabar tersebut.
Namun, sejumlah analis tetap waspada.
"Pemimpin Rusia diperkirakan akan tetap bersikeras pada tuntutan teritorialnya, yang sulit diterima bagi negara yang diserang. Di sisi lain, Presiden AS kemungkinan akan menekan untuk gencatan senjata,"ujar analis PVM, Tamas Varga.
Dia menambahkan bahwa terobosan besar tidak diantisipasi, dan AS masih bisa menindaklanjuti ancaman sanksi sekunder terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam energi Rusia — termasuk China dan India.(yds)
Sumber: Reuters