Minyak Melaju, Red Sea Jadi Ancaman
Harga minyak kembali menguat pada perdagangan Rabu (22/07)setelah Presiden AS Donald Trump meredam peluang pembicaraan cepat dengan Iran. Risiko gangguan pasokan global juga semakin melebar, bukan hanya dari Timur Tengah, tetapi juga dari kawasan Laut Hitam.
Brent naik ke sekitar US$92 per barel dan mencatat penguatan untuk hari keempat berturut-turut. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI bergerak di atas US$85 per barel. Brent kontrak September naik 1,1% ke US$92,05, sementara WTI kontrak September menguat 1% ke US$85,20 per barel.
Trump mengatakan AS tidak tertarik membuka pembicaraan dalam waktu dekat dengan Iran. Ia juga kembali mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain, yang diduga sebagai lokasi nuklir Iran, serta berjanji merespons jika Houthi mengganggu pelayaran di Laut Merah.
Militer AS menyebut telah melakukan serangan hari ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz. Meski jalur tersebut masih terbuka, lalu lintas kapal komersial di sekitar Hormuz turun ke level terendah dalam tiga pekan.
Ancaman Houthi terhadap lalu lintas maritim Arab Saudi mulai memberi dampak. Sejumlah tanker terlihat berhenti sementara saat mendekati perairan Yaman, sementara kapal lain yang membawa minyak Saudi berbalik arah menuju Terusan Suez. Laut Merah menjadi jalur penting bagi Saudi untuk mengalihkan sebagian ekspor minyak dan menghindari risiko di Selat Hormuz.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpeluang bertahan tinggi selama risiko konflik AS-Iran, ancaman Houthi, dan gangguan jalur energi belum mereda. Jika Laut Merah benar-benar tertutup atau pasokan OECD terus menipis, Brent berpotensi menembus US$100 per barel. Namun, jika muncul sinyal negosiasi baru, kenaikan minyak bisa mulai tertahan.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id