Minyak Melonjak, Konflik Teluk Makin Panas
Harga minyak melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Jumat (17/8) dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu bulan. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya serangan antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk, serta kekhawatiran terhadap gangguan jalur pelayaran energi.
Minyak Brent naik US$3,87 atau 4,59% ke level US$88,10 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat US$3,54 atau 4,48% ke level US$82,49 per barel. Keduanya berada di level tertinggi sejak pertengahan Juni.
Secara mingguan, Brent dan WTI sama-sama menguat sekitar 16%. Brent berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, sementara WTI menuju penguatan mingguan kedua.
Ketegangan meningkat setelah AS menyerang jembatan dan bandara di Iran. Sebagai balasan, Tehran menyerang fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air di Kuwait, serta mengklaim melancarkan serangan tambahan terhadap fasilitas AS di Timur Tengah, termasuk serangan langsung pertama ke Suriah.
Pasar semakin khawatir karena ancaman terhadap jalur pelayaran tidak hanya terjadi di Selat Hormuz, tetapi juga berpotensi meluas ke Laut Merah. Jika lebih banyak kapal tanker terkena serangan, pemilik kapal bisa menolak masuk ke Teluk Persia dan membuat pasokan minyak semakin terganggu.
Dampaknya ke market, harga minyak berpotensi tetap kuat selama konflik AS-Iran belum mereda. Kenaikan energi dapat kembali mendorong tekanan inflasi global, menekan daya beli konsumen, dan membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.(yds)
Sumber: Newsmaker.id