Wall Street Melemah, Saham Chip Makin Tertekan
Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (17/7), terseret aksi jual lanjutan pada saham semikonduktor dan meningkatnya ketegangan geopolitik. S&P 500 turun 1%, Nasdaq melemah 1,5%, sementara Dow Jones terkoreksi 407 poin.
Tekanan utama datang dari saham chip setelah investor kembali mencemaskan prospek belanja infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Pasar khawatir perusahaan besar pengembang AI mulai mengurangi investasi, sehingga membalikkan sebagian reli saham teknologi tahun ini.
Kekhawatiran tersebut makin kuat setelah model AI China menunjukkan perkembangan pesat, termasuk rilis terbaru Kimi dari Moonshot. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa persaingan AI global semakin ketat dan dapat menekan dominasi perusahaan teknologi AS.
Sejumlah saham semikonduktor ikut melemah. Nvidia turun 2,2%, Broadcom terkoreksi 1%, AMD melemah 1%, dan Intel turun 2%. Pelemahan ini membuat sektor teknologi kembali menjadi pemberat utama indeks saham AS.
Sentimen pasar juga terbebani oleh risiko inflasi akibat perang di Timur Tengah yang masih berlanjut dan mendorong kenaikan harga bahan bakar. Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait dugaan campur tangan China dalam pemilu AS 2020 turut memunculkan kekhawatiran baru terhadap kelanjutan gencatan dagang kedua negara.
Dampaknya ke market, Wall Street berpotensi tetap sensitif terhadap saham chip, harga energi, dan hubungan AS-China. Jika aksi jual sektor teknologi berlanjut, Nasdaq masih berisiko menjadi indeks yang paling tertekan, sementara investor dapat beralih ke aset yang lebih defensif.(yds)
Sumber: Newsmaker.id