Hormuz Terancam, Minyak Bertahan di Level Tinggi
Harga minyak di jalur kenaikan mingguan terbesar sejak April karena konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengganggu pasokan energi dari Timur Tengah. Brent diperdagangkan di sekitar US$85 per barel dan berpotensi menguat sekitar 11% dalam sepekan, sementara WTI naik mendekati US$80 per barel.
Ketegangan meningkat setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk menargetkan fasilitas pertahanan. Serangan ini menyusul operasi sebelumnya yang menghantam tanker minyak di dekat terminal ekspor utama Iran, sehingga kekhawatiran terhadap keamanan pasokan kawasan kembali membesar.
Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS di Kuwait, Yordania, dan Bahrain. Ketiga negara tersebut menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak oleh serangan balasan Iran sejak konflik kembali meningkat pada awal pekan lalu. Qatar, yang berperan sebagai mediator perdamaian, juga menyatakan berhasil mencegat rudal yang menargetkan wilayahnya.
Kenaikan harga minyak terjadi karena pasar kembali mencemaskan arus pengiriman di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima aliran minyak global. Gangguan juga mulai terasa pada pasokan produk olahan seperti diesel dan bensin, sehingga margin kilang minyak AS ikut melonjak ke rekor tertinggi.
Pasar bahan bakar di AS dan Eropa kini menunjukkan kondisi sangat ketat. Tekanan ini diperparah oleh penurunan ekspor Rusia setelah Ukraina menyerang kilang-kilang negara tersebut dan Moskow melarang ekspor diesel. Kondisi ini membuat risiko kenaikan biaya energi bagi konsumen semakin besar.
Meski lalu lintas kapal di Hormuz menurun, sebagian pengiriman masih berlangsung melalui transfer antar kapal di sekitar Oman. Namun, pasar tetap waspada setelah Iran menargetkan kapal yang digunakan untuk memindahkan minyak dari Uni Emirat Arab. Dampaknya ke market, minyak masih berpotensi bertahan tinggi selama ancaman terhadap Hormuz belum mereda dan pasokan bahan bakar global tetap ketat. (arl)
Sumber: Newsmaker.id