Aset Kripto Melemah, Risiko Global Meningkat
Bitcoin kembali melemah pada perdagangan Jumat (17/7), seiring tekanan pada aset berisiko akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran dan kekhawatiran pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Saat ini, Bitcoin bergerak di sekitar US$63.041, dengan level intraday berada di kisaran US$62.636 hingga US$64.775.
Tekanan terhadap Bitcoin terjadi ketika konflik di Timur Tengah kembali memanas. Harga minyak ikut naik karena eskalasi AS-Iran dan ancaman gangguan jalur energi, dengan Brent berada di sekitar US$84,30 per barel dan WTI di sekitar US$79,11. Kenaikan minyak ini membuat pasar kembali mencemaskan risiko inflasi energi.
Dari sisi makro, inflasi AS yang lebih jinak memang sempat menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, inflasi masih berada di atas target The Fed, sehingga pasar tetap melihat peluang setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadi tekanan bagi aset spekulatif seperti kripto.
Bitcoin juga belum mendapat dorongan kuat dari sentimen institusional. Data SoSoValue menunjukkan arus ETF Bitcoin spot masih menjadi perhatian pasar, karena pergerakan dana masuk dan keluar ETF ikut mencerminkan minat investor besar terhadap aset kripto.
Tekanan juga terlihat pada aset kripto lain. Ethereum berada di sekitar US$1.624,95, sementara XRP diperdagangkan di sekitar US$1,059, Solana di sekitar US$77,97, Cardano di sekitar US$0,1609, BNB di sekitar US$563,85, dan Dogecoin di sekitar US$0,0717.
Dampaknya ke market, Bitcoin masih cenderung rentan selama harga minyak tinggi, konflik AS-Iran belum mereda, dan The Fed tetap menjaga nada hati-hati terhadap inflasi. Selama BTC belum mampu bertahan kuat di atas area US$64.000–US$65.000, peluang tekanan lanjutan masih terbuka, dengan area US$62.000 menjadi level psikologis yang perlu diperhatikan.(arl)
Sumber: Newsmaker.id