Perak Tertekan, Risiko Suku Bunga Menguat
Harga perak bergerak stabil di sekitar US$55,50 per troy ounce pada perdagangan Jumat (17/7), tetapi masih berada di jalur pelemahan mingguan hampir 7%. Tekanan utama datang dari meningkatnya ekspektasi suku bunga, meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih tinggi.
Ketegangan AS-Iran terus menjaga harga minyak tetap tinggi. Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pengiriman minyak Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran. Di saat yang sama, sejumlah ledakan juga dilaporkan terjadi di beberapa kota Iran.
Risiko terhadap pasokan energi global membuat pasar kembali khawatir terhadap gelombang inflasi baru. Jika harga minyak terus naik, bank sentral utama berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menahan tekanan harga.
Dari Amerika Serikat, data ekonomi terbaru ikut memperkuat pandangan tersebut. Initial Jobless Claims turun ke 208 ribu, lebih baik dari perkiraan, sementara Philadelphia Fed Manufacturing Index naik ke level tertinggi sejak November 2021. Data ini menunjukkan ekonomi AS masih cukup tangguh.
Sejumlah pejabat The Fed juga tetap berhati-hati. Presiden Fed Dallas Lorie Logan menilai kemajuan inflasi belum cukup, sementara Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi gagal melambat lebih lanjut.
Dampaknya ke market, perak masih sulit mendapatkan dorongan kuat meski permintaan safe haven tetap ada. Selama harga minyak tinggi, inflasi berisiko kembali naik, dan The Fed masih membuka ruang kebijakan ketat, XAG/USD berpotensi tetap tertekan dalam jangka pendek. (arl)
Sumber: Newsmaker.id