Dua Jalur Energi Terancam, Minyak Bertahan Kuat
Harga minyak masih mempertahankan penguatannya setelah Amerika Serikat menyatakan telah memulai gelombang serangan baru terhadap instalasi militer Iran pada Rabu (15/7). Serangan ini ditujukan untuk melemahkan kemampuan Teheran dalam menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan melancarkan serangan semalam. Langkah ini memicu respons dari Garda Revolusi Iran yang mengancam akan menutup jalur ekspor lain yang menguntungkan AS dan sekutunya.
Brent naik 18 sen atau 0,2% ke level US$84,91 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI menguat 26 sen atau 0,3% ke level US$79,60 per barel. Pada Selasa, harga minyak sudah ditutup naik 2% ke level tertinggi satu bulan.
Ketegangan kembali meningkat setelah gencatan AS-Iran yang rapuh mulai retak. Militer AS menyebut telah menghantam puluhan target militer di dekat jalur strategis Hormuz dan wilayah pesisir Iran dalam serangan yang berlangsung sekitar tujuh jam.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang target militer AS di kawasan, termasuk Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Analis juga menilai Iran bisa menggunakan sekutunya, Houthi di Yaman, untuk mengganggu jalur Bab el-Mandeb menuju Laut Merah, sehingga dua jalur energi utama dunia berisiko terganggu sekaligus.
Goldman Sachs memperkirakan ekspor Teluk sempat pulih di atas 80% dari level sebelum perang setelah nota kesepahaman AS-Iran pada Juni. Namun, ekspor kembali turun di bawah 50% atau sekitar 11 juta barel per hari dalam sepekan terakhir. Dampaknya ke market, minyak masih berpotensi bertahan tinggi selama gangguan ekspor Teluk berlanjut, bahkan Brent disebut bisa menembus US$110 pada kuartal IV jika pemulihan pasokan terus terhambat. (arl)
Sumber: Newsmaker.id