Minyak Naik Setelah Dialog AS-Iran Ditunda
Harga minyak Brent menguat pada Jumat (19/6) setelah pembicaraan AS-Iran di Swiss dibatalkan secara mendadak, menambah ketidakpastian terhadap upaya mengubah kesepakatan sementara menjadi perdamaian permanen. Brent naik 0,9% dan ditutup di $80,57 per barel, sementara WTI sempat menguat 1,23% ke $77,54 per barel pada perdagangan Jumat siang.
Kementerian Luar Negeri Swiss menyatakan pertemuan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Bürgenstock tidak berjalan sesuai rencana. Gedung Putih juga menyebut Wakil Presiden JD Vance tidak lagi berangkat ke Swiss karena masih ada persoalan logistik dalam negosiasi.
Harga sempat berbalik melemah setelah Israel dan Hizbullah yang didukung Iran menyepakati gencatan senjata. Namun, tekanan itu tidak bertahan karena pasar masih mempertanyakan apakah kesepakatan sementara AS-Iran dapat berkembang menjadi perjanjian yang lebih kuat dan mampu menjamin pemulihan penuh arus energi.
Wakil Presiden JD Vance sebelumnya mengatakan kapal tanker yang membawa lebih dari 12 juta barel minyak telah melintasi Selat Hormuz dalam semalam. Ia juga menyebut Iran tidak menembaki kapal di jalur tersebut selama dua malam berturut-turut, yang dinilai sebagai tanda awal bahwa Teheran menjalankan komitmennya.
Meski demikian, pemulihan fisik belum sepenuhnya meyakinkan. Sejumlah perusahaan pelayaran besar belum kembali melintasi Hormuz, sementara biaya asuransi masih tinggi. Kondisi ini menunjukkan pasar tetap berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi jalur energi utama tersebut.
Sekretaris Jenderal OPEC Haitham Al Ghais mengatakan organisasi tersebut tidak memperkirakan permintaan minyak mencapai puncaknya dalam waktu dekat. Ia juga menolak proyeksi International Energy Agency yang memperkirakan potensi kelebihan pasokan di masa depan, dengan menekankan bahwa OPEC lebih fokus pada data fundamental aktual.
Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, menilai pembukaan bersyarat Selat Hormuz, pencabutan status force majeure oleh Kuwait, dan berakhirnya blokade laut AS telah meyakinkan investor bahwa gangguan besar yang sempat mendorong harga minyak di atas $120 telah berakhir. Namun, ia memperingatkan bahwa aksi jual terbaru mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka pendek meski gencatan 60 hari menjadi langkah positif.
Tiago Lacerda dari Axi memperkirakan minyak dapat bergerak di kisaran $75 sampai $82 per barel dalam waktu dekat, dengan Brent telah turun sekitar 36% dari puncak selama konflik. Fokus pasar berikutnya tertuju pada apakah pembukaan fisik Hormuz benar-benar berjalan, apakah jalur pelayaran besar kembali aktif, serta apakah biaya asuransi mulai turun.(yds)
Sumber: Newsmaker.id