Emas Turun, Sinyal Hawkish Fed dan Iran Tekan Sentimen
Harga emas melanjutkan pelemahannya pada Jumat (19/6) dan menuju penurunan mingguan ketiga, saat pasar menimbang tertundanya negosiasi damai permanen di Timur Tengah serta prospek suku bunga AS yang lebih tinggi. Bullion sempat turun hingga 2,1% sebelum diperdagangkan melemah 1,5% ke $4.146,98 per ons pada pukul 12.19 waktu London.
Tekanan utama masih datang dari Federal Reserve. Nada hawkish Ketua Fed Kevin Warsh terkait inflasi membuat pasar semakin memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga. Bagi emas, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang aset non-yielding dan dapat menahan arus masuk investasi.
Dolar AS juga masih menjadi faktor pembatas. Bloomberg Dollar Spot Index bergerak stabil, tetapi mempertahankan kenaikan mingguan sekitar 0,8%. Dolar yang kuat cenderung menekan emas karena membuat bullion lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Dari sisi geopolitik, AS dan Iran menunda pembicaraan untuk kesepakatan permanen serta program nuklir Teheran setelah ketegangan kembali meningkat di Lebanon selatan. Penundaan ini menambah ketidakpastian terhadap kelanjutan proses damai, meski kesepakatan sementara telah ditandatangani sebelumnya.
Arus kapal yang membawa minyak tertahan mulai bergerak keluar dari Selat Hormuz setelah kesepakatan sementara, sehingga sebagian kekhawatiran terhadap kekurangan energi mereda. Namun, lalu lintas kapal kembali menipis pada Jumat pagi, dan pasar masih menilai pemulihan volume minyak serta LNG melalui jalur tersebut dapat membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Logam mulia lain ikut melemah. Perak turun 1,6% ke $64,60 per ons, sementara platinum dan palladium juga bergerak lebih rendah. Fokus pasar berikutnya tertuju pada arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, perkembangan negosiasi AS-Iran, serta kecepatan pemulihan arus energi melalui Selat Hormuz.(arl)
Sumber: Newsmaker.id