Reli Dolar Tertahan Aksi Profit Taking Jelang Libur Panjang
Dolar AS berbalik melemah pada perdagangan Jumat (19/6) setelah sebelumnya sempat menguat, karena pelaku pasar memangkas eksposur menjelang akhir pekan panjang di AS. Indeks spot dolar Bloomberg turun sekitar 0,1%, sehingga kenaikan mingguan indeks tersebut menyempit menjadi 0,8%.
Aksi ambil untung muncul setelah dolar menguat pasca pertemuan Federal Reserve. Desk leveraged fund terlihat menutup posisi beli dolar setelah Tokyo fix, dengan sebagian stop loss terpicu ketika euro bergerak di atas $1,1430. Treasury futures relatif stabil karena pasar tunai AS tutup untuk hari libur nasional.
Sentimen terhadap dolar sebelumnya masih mendapat dukungan dari sinyal hawkish The Fed dan tertundanya negosiasi AS-Iran untuk kesepakatan damai permanen. Namun, kombinasi posisi pasar yang sudah panjang dan likuiditas yang lebih tipis membuat greenback rentan terhadap koreksi jangka pendek.
Euro menghapus pelemahan awal dan diperdagangkan stabil di sekitar $1,1463, setelah sempat turun ke $1,1418, mendekati level terendah 10 bulan. Pergerakan ini menunjukkan tekanan terhadap euro mulai tertahan ketika pasar mengurangi posisi beli dolar menjelang libur AS.
Pound juga berbalik menguat setelah sempat turun 0,3%. GBP/USD naik hingga 0,2% ke 1,3234, meski pasar Inggris dibayangi dinamika politik setelah Andy Burnham memenangkan pemilihan sela Makerfield, yang membuka ruang tantangan kepemimpinan Partai Buruh. Yield obligasi Inggris 10 tahun naik 7 basis poin ke 4,82%.
Di Asia, USD/JPY turun tipis ke 161,29 setelah sempat menyentuh 161,81 pada Kamis, level terkuat sejak 2024. Kekhawatiran intervensi meningkat setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama menyatakan pemerintah dapat mengambil tindakan tegas terhadap pergerakan spekulatif. Deputi Gubernur Bank of Japan Ryozo Himino juga menyoroti risiko tren harga Jepang bergerak di atas target inflasi 2%.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada apakah koreksi dolar hanya bersifat teknikal menjelang libur panjang atau mulai mencerminkan perubahan posisi yang lebih luas. Arah Fed, perkembangan negosiasi AS-Iran, risiko intervensi yen, dan yield global akan tetap menjadi variabel utama bagi pasar valuta asing.(arl)
Sumber: Newsmaker.id