Negosiasi AS-Iran Ditunda, Ketegangan Lebanon Bayangi Kesepakatan Damai
Amerika Serikat dan Iran menunda dimulainya negosiasi mengenai kesepakatan perdamaian permanen serta pembatasan program nuklir Teheran. Pembicaraan yang semula dijadwalkan berlangsung di Swiss pada Jumat belum dapat dimulai. Hingga kini, belum ada kejelasan pasti mengenai alasan utama penundaan tersebut.
Ketegangan di kawasan kembali meningkat setelah Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran terlibat bentrokan di Lebanon selatan. Iran sebelumnya menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon menjadi salah satu bagian penting dalam kesepakatan sementara dengan AS yang diselesaikan pekan ini. Kondisi tersebut membuat proses diplomasi antara Washington dan Teheran kembali menghadapi tekanan.
Pertempuran terbaru di Lebanon disebut lebih mematikan dari biasanya. Militer Israel melaporkan empat tentaranya tewas, termasuk seorang komandan batalion. Sementara itu, Kantor Berita Nasional Lebanon yang dikelola negara melaporkan serangan Israel menewaskan 18 orang. Situasi ini semakin memperbesar risiko bahwa konflik regional dapat kembali mengganggu upaya perdamaian yang baru berjalan.
Di sisi lain, perkembangan ini juga memunculkan pertanyaan terkait masa depan Selat Hormuz. Jalur pelayaran penting tersebut mulai kembali ramai setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani perjanjian pada Rabu. Dalam kesepakatan itu, AS mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran menyatakan akan membuka kembali Selat Hormuz.
Secara market, penundaan negosiasi AS-Iran berpotensi membuat pelaku pasar kembali berhati-hati, terutama pada sektor energi. Jika ketegangan di Lebanon meluas atau pembicaraan damai kembali tertunda lebih lama, harga minyak berpeluang mendapat dorongan dari premi risiko geopolitik. Namun, apabila kedua pihak segera melanjutkan negosiasi dan arus kapal di Hormuz tetap stabil, tekanan terhadap harga energi bisa kembali mereda.(gn)
Sumber: Newsmaker.id