Harga Minyak Menguat Tipis, Pasar Pantau Kelanjutan Hormuz
Harga minyak bergerak menguat tipis setelah sempat mencatat pelemahan mingguan yang cukup dalam pada Jumat (19/06). Kenaikan ini terjadi karena pelaku pasar masih menilai prospek pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz, sambil tetap mencermati ketegangan yang belum sepenuhnya mereda di kawasan Timur Tengah.
Brent naik ke atas US$80 per barel, sehingga memangkas penurunan mingguannya menjadi sekitar 8%. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus bergerak di sekitar US$77 per barel. Sejumlah kapal yang sebelumnya tertahan mulai keluar dari jalur Hormuz setelah adanya kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran pada pekan ini.
Meski demikian, sentimen pasar belum sepenuhnya tenang. Wakil Presiden AS JD Vance menunda perjalanannya ke Swiss untuk pembicaraan lanjutan dengan Iran. Di saat yang sama, militer Israel menyatakan masih melanjutkan serangan terhadap Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Kondisi ini membuat risiko geopolitik tetap menjadi perhatian utama pasar energi.
Pada Kamis, kapal-kapal yang membawa hampir 10 juta barel minyak terlihat berada di luar Selat Hormuz atau mulai berlayar melalui jalur tersebut. Bahkan, kapal tanker milik Arab Saudi kembali melintas untuk pertama kalinya sejak konflik dimulai lebih dari tiga bulan lalu. Dalam kondisi normal, Selat Hormuz biasanya menjadi jalur pengiriman sekitar 20 juta barel minyak dan produk energi per hari, menurut Badan Energi Internasional.
Secara market, kenaikan minyak saat ini lebih terlihat sebagai rebound teknikal setelah tekanan jual tajam dalam beberapa sesi terakhir. Namun, ruang penguatan masih terbatas karena pasar menunggu bukti bahwa pembukaan Hormuz benar-benar berjalan stabil. Jika arus kapal kembali lancar, harga minyak berpotensi tetap tertekan. Sebaliknya, apabila ketegangan kembali meningkat atau proses pembukaan jalur terganggu, minyak dapat kembali mendapatkan dorongan naik dari premi risiko geopolitik. (asd)
Sumber: Newsmaker.id