Euro Melemah ke Level Terendah Sejak Pertengahan Maret
Euro bergerak di sekitar level US$1,145 pada perdagangan terbaru Jumat (19/06) dan berada di posisi terlemah sejak pertengahan Maret. Mata uang tunggal Eropa tersebut juga berpotensi mencatat pelemahan mingguan sekitar 1%, seiring penguatan dolar Amerika Serikat yang terjadi secara luas di pasar valuta asing.
Sentimen terhadap euro ikut tertekan setelah rencana pembicaraan damai Amerika Serikat dan Iran di Swiss tiba-tiba dibatalkan. Pembatalan tersebut kembali memunculkan keraguan mengenai ketahanan kesepakatan sementara yang dicapai pada akhir pekan lalu untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat investor kembali berhati-hati terhadap aset berisiko.
Dolar AS mendapat dukungan tambahan dari Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga, tetapi memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish dalam proyeksi terbarunya. Sikap tersebut membuat pasar menilai bahwa peluang pengetatan moneter lanjutan di Amerika Serikat masih terbuka. Akibatnya, dolar AS tetap kuat dan memberikan tekanan terhadap pasangan EUR/USD.
Di Eropa, fokus pasar tertuju pada European Central Bank atau ECB yang baru-baru ini menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023. Pasar uang kini memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini, seiring sikap tegas pejabat ECB terhadap inflasi. Pierre Wunsch menyebut kenaikan berikutnya bisa terjadi secepat bulan depan apabila tekanan inflasi meluas di luar sektor energi, sementara Philip Lane menilai ekonomi zona euro masih mampu menyerap biaya pinjaman yang lebih tinggi tanpa kehilangan momentum. (asd)
Sumber: Newsmaker.id