Harga Minyak Pulih di Tengah Ancaman Trump Ke Iran
Harga minyak dunia kembali menguat pada Rabu (10/6/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran terkait lamanya negosiasi perdamaian. Brent naik 0,8% ke level US$92,18 per barel, sementara WTI Amerika Serikat naik 1,2% ke US$89,22 per barel. Kenaikan ini terjadi setelah harga minyak sempat anjlok sekitar 3% pada sesi sebelumnya, mencapai level terendah dalam tujuh minggu.
Trump menyatakan bahwa Iran harus membayar “harga” karena menunda kesepakatan damai, dan mengklaim militer Iran telah dihancurkan oleh kampanye gabungan AS-Israel yang telah berlangsung selama empat bulan. Ancaman ini datang saat AS mempertimbangkan kemungkinan serangan baru terhadap infrastruktur energi Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan strategis, untuk menekan Teheran agar kembali ke meja negosiasi.
Di sisi lain, Iran menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Yordania dan beberapa negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS terhadap wilayah selatan Iran. Israel juga melanjutkan serangan di Lebanon selatan, menargetkan militan Hizbullah yang didukung Iran. Eskalasi ini mengancam kemajuan sementara menuju de-eskalasi, yang sebelumnya dicapai setelah kedua pihak sempat menyepakati jeda serangan atas permintaan Trump.
Ketegangan geopolitik ini menjaga harga minyak tetap tinggi, jauh di atas level sebelum konflik, karena risiko gangguan pasokan dari Selat Hormuz yang vital tetap mengintai. Kondisi ini mendorong kekhawatiran pasar akan lonjakan inflasi energi global, yang dapat memicu bank sentral di berbagai negara untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat pada Mei, didorong kenaikan harga bensin sebagai efek samping dari perang di Iran. Sementara itu, stok minyak mentah AS turun tajam 9,12 juta barel minggu lalu menurut American Petroleum Institute, jauh melebihi perkiraan penurunan 3,4 juta barel. Inventaris bahan bakar juga mengalami penurunan, meski distilat sedikit naik, menambah kekhawatiran terhadap pasokan global.
Dengan pasar yang masih waspada terhadap konflik di Timur Tengah dan potensi gangguan aliran minyak, Brent diperkirakan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Saat ini Brent berada di level sekitar US$92 per barel, dengan risiko naik-turun tipis mengikuti perkembangan geopolitik dan data inventaris AS.(yds)
Sumber: Newsmaker.id