Minyak Naik, Serangan Dekat Hormuz Guncang Prospek Deal
Harga minyak bergerak naik tipis setelah sehari sebelumnya jatuh lebih dari 7%, seiring laporan serangan militer baru di Iran kembali memicu ketidakpastian atas prospek kesepakatan sementara Teheran dan Washington untuk membuka Selat Hormuz.
Brent naik mendekati US$98 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$91. Kenaikan ini terjadi saat pasar menilai risiko pasokan masih tinggi, meski sebelumnya muncul sinyal pembicaraan berjalan positif.
Menurut laporan New York Times yang mengutip pernyataan Komando Pusat AS (Centcom), pasukan AS menyerang lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga mencoba memasang ranjau. Media semi-resmi Iran, Fars News Agency, juga melaporkan ledakan keras terdengar di sekitar selat dekat kota pesisir Sirik dan Jask.
Pada awal pekan, harga minyak sempat tertekan tajam setelah Presiden AS Donald Trump menulis bahwa pembicaraan “berjalan dengan baik,” sambil tetap mengancam serangan lanjutan jika negosiasi gagal. Di saat yang sama, ada pernyataan bahwa kesepakatan disebut sudah dekat, yang ikut menekan premi risiko pada sesi sebelumnya.
Meski reli pada Maret dan April, harga minyak masih mengarah mencatat penurunan sepanjang Mei karena gencatan senjata yang rapuh dan dorongan pembukaan kembali Hormuz lebih dominan dibanding sinyal persediaan yang menipis. Selat Hormuz, jalur strategis yang pada masa normal mengalirkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan LNG, pada praktiknya masih tertutup dan berada di bawah blokade AS dan Iran.
Sejumlah analis menilai terlalu dini menganggap kesepakatan akan tercapai dan dipatuhi. Pasar juga mencermati isu lain yang berpotensi menghambat, termasuk perbedaan pandangan soal siapa yang mengelola lalu lintas maritim di titik sempit tersebut, serta eskalasi di Lebanon setelah Israel menyatakan akan meningkatkan serangan terhadap Hezbollah.
Untuk perdagangan terbaru, Brent Juli naik 1,6% ke US$97,71 pada 08.13 di Singapura, sementara WTI Juli berada di US$91,39. Tidak ada penyelesaian harga pada Senin karena hari libur di AS, sehingga pergerakan hari ini lebih banyak merefleksikan penyesuaian risiko dan perkembangan headline geopolitik.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id