Minyak Turun di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Harga minyak turun lebih dari 4% pada Senin (25/5), menyentuh level terendah dua minggu, seiring meningkatnya ekspektasi pasar atas kemajuan negosiasi antara AS dan Iran. Brent turun 4,3% ke $99,10 per barel, sementara WTI anjlok 4,5% ke $92,24 per barel, setelah keduanya mencatatkan penurunan mingguan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa kedua negara “sebagian besar telah bernegosiasi” mengenai kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis bagi hampir 20% pasokan energi global. Namun, isu-isu sulit, termasuk blokade Selat Hormuz dan persediaan uranium Iran, masih menjadi hambatan, dan negosiasi tetap berlanjut tanpa kesepakatan final.
Beberapa kapal tanker LNG dan minyak mulai meninggalkan Selat Hormuz, menandakan pemulihan arus energi secara bertahap. Meski demikian, para analis memperkirakan normalisasi penuh akan memakan waktu berbulan-bulan, mengingat fasilitas minyak dan gas yang rusak akibat konflik harus diperbaiki.
Di pasar domestik AS, perusahaan energi menambah jumlah rig minyak dan gas untuk minggu kelima berturut-turut sebagai respons terhadap harga energi lokal yang tinggi. Jumlah rig mencapai 558 unit, tertinggi sejak Juni 2025, meski masih sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data Baker Hughes.
Kondisi ini mencerminkan ketidakpastian pasar yang tetap tinggi, di mana faktor geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan produksi domestik terus memengaruhi harga minyak global. Investor tetap memantau perkembangan negosiasi AS-Iran dan laporan persediaan minyak untuk mengantisipasi arah harga minyak dalam beberapa minggu ke depan. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id