Minyak Bertahan Kuat, Blokade Iran Jaga Premi Risiko Hormuz
Harga minyak bertahan mencatat kenaikan mingguan kedua setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, memicu kekhawatiran Selat Hormuz tidak akan segera dibuka kembali. Brent untuk pengiriman Juli naik 1,5% ke US$112,02 per barel pada 09:09 pagi waktu Singapura, sementara WTI Juni naik 0,9% ke US$105,98.
Reli ini membuat WTI tercatat naik sekitar 12% sepanjang pekan, di tengah kebuntuan negosiasi yang memperpanjang kondisi “nyaris tertutup” pada jalur laut yang sebelum perang mengalirkan sekitar seperlima minyak mentah dunia. Ketidakpastian pasokan memicu swing harga yang tajam sekaligus mendorong kurva futures semakin “flat”, mencerminkan pasar lebih fokus pada risiko pasokan jangka dekat.
Dari Teheran, pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menyatakan kecil kemungkinan tercapai kesepakatan dengan AS, menegaskan tidak akan melepas teknologi nuklir maupun misil, serta mengisyaratkan Iran tetap menguasai selat. Kombinasi pernyataan politik dan kondisi logistik di Hormuz terus mempertahankan premi risiko pada harga minyak.
Likuiditas pasar juga tipis pada sesi Asia karena banyak bursa global libur Hari Buruh, termasuk China, Singapura, Jerman, Prancis, dan Brasil. Volume yang di bawah normal cenderung memperbesar volatilitas intraday, terutama ketika pasar bereaksi terhadap headline geopolitik.
Di tengah lonjakan harga, ConocoPhillips memperingatkan potensi “kelangkaan kritis” minyak bagi sejumlah negara importir saat perang memasuki bulan ketiga. CFO Andy O’Brien menilai tekanan pasokan bisa memburuk mulai Juni, karena “masa tenggang” dari tanker yang sempat keluar Teluk Persia pada akhir Februari kini telah habis setelah seluruh kargo tersebut tiba di tujuan.
Sinyal pengetatan fisik juga terlihat dari menyempitnya selisih harga paper dan fisik, sementara ekspor minyak mentah AS melonjak ke rekor pekan lalu karena pembeli global mencari pengganti barel yang hilang dari Timur Tengah. Pasar kini memantau kelancaran arus tanker, indikasi kekurangan di negara importir pada Juni–Juli, serta dampak lanjutan lonjakan energi terhadap inflasi dan respons bank sentral.(asd)
Sumber: Newsmaker.id